Musik dipercaya sebagai media yang mampu merangsang pertumbuhan otak
kiri manusia. Wajar bila kemudian lembaga pendidikan musik formal dan nonformal
menjamur di kota-kota besar.
Stigma bahwa anak harus mengenyam pendidikan musik
sejak dini menjadi orientasi yang dianggap terbaik bagi orangtua masa kini.
Pendidikan musik nonformal yang menjamur di Indonesia biasanya menawarkan
sejumlah program dengan membagi usia anak didik. Pengenalan musik usia dini,
misalnya pada anak usia 2-3 tahun dijanjikan memicu peningkatan kecerdasan.
Anak usia 4-6 tahun diharapkan mampu mengenal do-re-mi. Anak usia selanjutnya
mulai dengan instrumen pilihan individual yang mengejargrade atau tingkatan keterampilan.
Di Indonesia, pendidikan musik untuk anak cukup
diminati para orangtua dengan kondisi ekonomi menengah ke atas. Biaya
pendidikan yang cukup mahal mau tak mau membuat kelas sosial
tersendiri. Tren dan gengsi tak jarang turut menghiasi tujuan utama
para orangtua memberi pendidikan musik kepada anak- anaknya. Belajar musik di
Indonesia kebanyakan hanya mengikuti gelombang zaman atau hobi, jarang
yang memilih menjadi pilihan hidup.
Pilihan hidup menjadi seorang musisi dinilai masih
belum menjadi cita-cita favorit anak-anak Indonesia. Dokter dan insinyur tetap
pilihan utama. Jika kita menilik sekolah kejuruan musik dan pendidikan tinggi
musik di Indonesia, kebanyakan siswa mereka berlatar anak musisi atau anak yang
tak diterima di sekolah umum atau perguruan tinggi dalam bidang ilmu lainnya.
Ini ironis, menimbang pendidikan musik yang awalnya
dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan otak pada akhirnya hanya menjadi
pilihan pelarian. Terlebih mengingat biaya yang cukup mahal meneror kantong
para orangtua. Sudah membayar mahal ternyata hanya terseret tren sesaat.
Berbeda dengan pendidikan musik di Taiwan. Riset
yang berjudul West Meets East: The Meaning and Study of
Western Classical Music in Taiwan (Dr Pan Li-ming) disampaikan
dalam simposium Royal Music Association yang bertajuk "Intercultural
Transfer in Music " di Singapura, beberapa waktu lalu, menyatakan
bahwa masyarakat Taiwan menganggap anak perempuan yang mampu
memainkan musik klasik adalah aset berharga.
Maka, menjadi kewajiban memberikan pendidikan musik
klasik yang terbaik meski harus dengan berutang. Dikatakan sebuah aset karena
anak perempuan denganketerampilan musik klasik yang baik akan dipinang lelaki
berprofesi dokter atau pengacara. Artinya, ini akan menaikkan derajat atau
strata kehidupan keluarga mereka.
Di setiap ruang
Pendidikan musik memiliki makna tersendiri di
setiap ruang. Di Indonesia masyarakat masih terjebak pada penawaran kapital
yang menggiurkan. Tren dan gengsi masih menjadi teror dalam memilih yang
terbaik untuk anak. Mengutip pernyataan musikolog Erie Setiawan, pendidikan
musik di Indonesia berbasis tren dan gengsi menjadikan anak-anak pinter main
musik, tetapi belum tentu memiliki jiwa baik, karakter unggul, mentalitas, dan
jiwa kepemimpinan.
Artinya, seorang anak yang belajar musik di lembaga
pendidikan musik-baik formal maupun nonformal-rupanya sekadar mengasah
kemampuan motoriknya. Anak piawai memencet tuts piano atau menggesek violin,
tetapi jiwa dan emosi musiknya tak terasah. Ini berseberangan dengan harapan
yang disebutkan di awal tulisan ini bahwa musik mampu menggenjot level
kecerdasan anak.
Jika ditarik ke ranah sempit hubungan anak dan
keluarga, ini ironis karena anak belajar dan bermain musik hanya untuk memenuhi
tuntutan orangtua. Anak tak mampu memainkan musik karena jiwanya tidak musikal.
Ditarik ke ranah yang lebih luas, misalnya kenegaraan atau kebangsaan,
anak-anak jebolan pendidikan musik ini tak bisa memberi faedah pemikiran atau
ide untuk bangsa karena musik yang dimainkan sekadar bentuk musik tanpa emosi.
Setelah menyelesaikan pendidikan musik akhirnya
anak-anak ini harus ikut arus musik kapital yang mapan. Malang nian, sudah
belajar musik karena teror tren dan gengsi orangtuanya, setelah menyelesaikan
studi musiknya harus ikut meneror masyarakat penikmat musik dengan sajian musik
berbasis kapital yang tak mementingkan estetika, dan rasa musik yang bagus.
Di ranah tradisi ada model pembelajaran musik yang
patut diadaptasi: Bali. Masyarakat Bali memaknai musik tak hanya sebagai laku
kesenian, tetapi juga laku spiritual. Maka, anak-anak belajar karawitan tidak
karena paksaan orangtua, tetapi mereka menyadari sejak usia dini bahwa
karawitan adalah bentuk kesenian dan laku spiritual yang penting bagi
kehidupan. Hasilnya, musik tradisi karawitan Bali bisa hidup berkesinambungan,
dirayakan sebagai laku spiritual mendukung berbagai upacara keagamaan,
sekaligus juga mampu menyumbang nominal yang tak sedikit saat dihadirkan dalam
ranah pariwisata. Musisi bisa menjadi pilihan mata pencaharian yang tak kalah
gengsi dengan pekerjaan di ranah nonkesenian, seperti dokter atau pengacara.
Sudah saatnya para orangtua di Indonesia memaknai
musik secara lebih luas dan menganjurkan anaknya belajar musik di lembaga
pendidikan musik bukan hanya demi gengsi. Para orangtua harus memberi tawaran
yang bisa dibicarakan dengan anak apakah anak memang mau belajar musik dengan
benar agar anak ikhlas belajar musik. Akhirnya anak bisa menjadi musisi yang
bahagia.
Para orangtua yang takut dengan teror mahalnya
biaya pendidikan musik dapat mencari pilihan lain di luar lembaga formal. Toh
mudah dijumpai komunitas atau perkumpulan musik tertentu dengan semangat
kolektif yang tak mematok biaya karena bertujuan belajar musik bersama.
Ini saatnya pendidikan dan pedagogi musik
memikirkan strategi pembelajaran musik yang lebih relevan dengan semangat
kekinian anak-anak yang tumbuh di zaman sekarang. Anak-anak belajar musik tidak
dalam suasana teror; mereka mampu jadi musisi dengan karya yang berfaedah bagi
khalayak luas penikmat musik, bukan menghadirkan teror.
Citra
Aryandari, Etnomusikolog; Pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Dilansir dari: www.kompas.com
Komentar