Membaca Puisi Nikris Rifiansya “Secangkir Kopi Ibu” dan “Doa” -->

Iklan Semua Halaman

Membaca Puisi Nikris Rifiansya “Secangkir Kopi Ibu” dan “Doa”

Minggu, 24 Januari 2016
Oleh: Latif Fianto*

Sebuah puisi selalu mengajak para pembacanya untuk menemukan sesuatu yang ada di belakang teks itu. Begitu puisi sampai ke tangan pembaca, teks seperti liar tak terkendali, menghasilkan beraneka tafsir makna, yang boleh jadi sesuai dengan maksud si penulis atau melenceng jauh dari makna sebenarnya. Namun, tatkala makna puisi dicapai sampai lapis makna kedua (Connotative Semiotics, Louis Hjelmslev, 2012, dalam Narudin, 2015) maka kesan implisit dalam teks puisi akan menjadi eksplisit atau disebut dengan significance, yaitu makna yang telah diartikulasikan.

Membaca atau mendengar puisi-puisi Nikris sebelumnya, telinga seolah selalu tergelitik. Bayang-bayang di kepala diajak untuk menjelajahi rimba kata Nikris yang lebih cenderung mengeksploitasi pemujaan pada lekuk tubuh sehingga puisi yang lahir beraroma jenaka-erotisme. Teks adalah sign yang dalam Semiotika dapat bermakna taksa atau dwitaksa (Riffaterre, 1978, 1983 dalam Narudin 2015). Melalui puisi-puisinya, Nikris seolah ingin mengatakan begini dengan maksud begitu. Dengan demikian, paling tidak ia sudah sukses mengelabuhi pembaca untuk tidak terjebak pada keliaran diksi yang dibangunnya, tapi jauh menemukan makna yang dikandungnya.  

Namun, membaca dua puisinya berjudul “Secangkir Kopi Ibu” dan “Doa”, kita disuguhi aroma yang berbeda. Seolah kita sedang duduk menikmati hidangan dua cangkir puisi yang bercita rasa spiritualisme. Dua judul puisi yang berbeda namun beraroma sama.

Apakah sesederhana itu? tentu tidak, sebab menjelajahi puisi Nikris sama halnya berjalan-jalan di dalam alam pikirannya. Kita mulai saja dengan puisi pertama berjudul “Secangkir Kopi Ibu” (2015). Membaca judul puisi ini kita seolah diberitahu akan keberadaan secangkir kopi milik ibu. Kata “milik” bisa saja menunjuk pada kepunyaan, atau sesuatu yang melekat, baik secara implisit maupun eksplisit. Judul “Secangkir Kopi Ibu”, lalu pada baris pertama dimulai dengan kalimat “sebelum asap mengepul” dan “kuminum secangkir rindu dari hitam kopimu” di baris kedua, menegaskan gambaran judul tersebut. Ibu, sebagai gua pertapaan yang dari rahimnya kita lahir, selalu menawarkan kehangatan dan kebahagiaan yang melebihi dari segala jenis kenikmatan.

Frasa “sebelum asap mengepul” merupakan adverbia waktu. Frasa ini merujuk atau kembali pada secangkir kopi yang sudah jelas ditaukidi pada kalimat baris kedua “kuminum secangkir rindu dari hitam kopimu”. Umumnya, ketika secangkir kopi diseduh, sudah tentu asap putih bergoyang di atasnya, mengindikasikan kopi yang masih hangat. Seseorang akan meminum kopi yang masih hangat dengan cara meniupnya agar terasa lebih dingin. Bila bercermin pada kohesi dan koherensi dalam sebuah teks puisi, tidak mungkin “sebelum asap mengepul” menunjuk pada asap yang mengepul di luar konteks secangkir kopi. Dengan kata lain, kalimat ini sebenarnya ingin menggambarkan keadaan kopi yang masih hangat, seperti kerinduan pada dekapan ibu yang hangat. Berada di dalam dekapannya seolah damai dan tenang. Makna ini terwakili oleh kalimat “gula waktu yang larut dalam dekap hangatmu menenangkan debur ombak yang menggebu”.

Mengurai makna yang terkandung dalam puisi ini akan sangat panjang tersebab puisi ini menawarkan nilai yang sangat agung, yaitu kerinduan pada sosok ibu setelah terpisah jarak yang sangat jauh. Secara keseluruhan, puisi ini terbilang cukup bagus, baik secara makna maupun secara diksi. Namun, lagi-lagi logika seolah tergelitik mendapati perkawinan kata yang belum menemukan kecocokan, setidaknya bila ditelisik secara sintaksis, yang tentu saja akan mengurangi kenikmatan jiwa puisi yang dimilikinya. Sebagai misal, pada baris ketujuh, “kini aku kembali merakit perahu”. Perahu merupakan kendaraan atau transportasi di atas air, laut dan semacamnya yang sudah utuh bisa digunakan. “merakit perahu” berarti merakit atau menggandengkan perahu yang satu dengan perahu lainnya dengan cara diikat atau sejenisnya untuk “kembali berlayar di laut senyummu”.

Selanjutnya, coba kita perhatikan penutup dari puisi ini: “Ibu apa arti dari sebuah rindu? selain dzikir serta doa dari setiap butiran tasbih”. Pertama, aroma spiritualisme dalam puisi ini mencapai puncaknya pada kalimat penutup tersebut. Kedua, kalimat “Ibu apa arti dari sebuah rindu?” sebenarnya bukan sebuah pertanyaan. Kalaupun itu adalah pertanyaan, tentu struktur jawabannya bukan “selain dzikir serta doa dari setiap butiran tasbih”. “Ibu apa arti dari sebuah rindu? selain dzikir serta doa dari setiap butiran tasbih” adalah kalimat positif yang tidak perlu diberikan tanda tanya (?) di antara keduanya. Sebab, kata “selain” adalah kalimat penyambung untuk mempertegas saja.
Yang lebih menggelitik lagi, mari kita cermati penutup dari dua puisi berikut ini:

Nariratih, apa yang berharga
dari kesaktian
selain pusaka iman

Subaidi Pratama, Pedang Naga Puspa, 2015 (discussed, 22 Desember 2015)

Ibu apa arti dari sebuah rindu?
selain dzikir serta doa dari setiap butiran tasbih

Nikris Rifiansya, Secangkir Kopi Ibu, 2015 (shared, 28 Desember 2015)

Membaca penutup dua puisi tersebut sepintas ada kemiripan, hanya pemilihan diksinya saja yang berbeda. Bukan bermaksud mempersamakan atau membanding-bandingkan. Hanya kebetulan saja didapati kemiripan, walaupun diyakini pasti tak pernah ada kesengajaan untuk menyamakan. Sebab, seringkali, pemikiran seseorang tidak jauh berbeda, hanya daya dan cara ungkapnya saja yang berbeda. Barangkali saja, si penulis perlu menemukan kreativitas yang berbeda untuk menutup puisinya.

Masuk pada puisi kedua berjudul “Doa” (2015), aroma religiusitas sangat kental sekali. Tak bisa dipungkiri, dari judul, baris pertama hingga baris terakhir, puisi ini merepresentasikan spirit keagamaan. Bisa jadi, puisi ini bentuk dari perenungan si penyair akan proses penghambaan kepada Tuhan.

Perhatikan pada baris pertama, lagi-lagi si penulis memulai puisinya dengan adverbia waktu “sebelum dunia runtuh”. Ada beberapa faktor kemungkinan kenapa si penulis selalu membuka puisinya dengan karakter yang sama. Pertama, penulis menekankan betapa berharganya waktu, yang terus mengalir tanpa mau kembali walau sedetik. Kedua, penulis tidak bisa keluar dari emosi yang telah dibangun pada puisi pertama sehingga berlanjut pada puisi kedua yang nyaris sama, tanpa ada ledakan-ledakan diksi. Ketika hendak memulai puisi kedua, ada ketergantungan pada puisi pertama. Hal ini terbukti dari kalimat pembuka.

Baris pertama “dunia runtuh”, sebuah rekonstruksi dari berakhirnya hidup dan kehidupan, maka si kau-lirik akan “kehilangan ruh”. Kehilangan menunjukkan sebuah peristiwa, yang siap atau pun tidak, manusia tetap akan binasa. “ayat yang selalu kau nyanyikan adalah cahaya dalam kamarmu” diletakkan pada baris kedua setelah adverbia waktu “sebelum langit runtuh”, bahwa cahaya yang berpendar dari ayat – doa atau ayat-ayat suci – tetap akan menjadi cahaya meski waktu terus bergulir, yaitu sebelum dan setelah “langit runtuh”. Sebelum hidup dan kehidupan berakhir, doa dan ayat-ayat suci itu akan menjadi penerang, penunjuk jalan di dunia, begitu pun setelah si kau mati, cahaya itu akan menerangi, menjadikan liang kubur yang “sempit akan menjadi luas” atau bahkan ketika dunia ini hancur berganti dengan dunia yang lain, cahaya itu tetap akan menerangi semua tempat atau dunia di mana kau berdiam, yang tergambar pada frasa“dalam kamarmu”.

Setiap perbuatan – entah perbuatan baik atau pun buruk – yang si kau-lirik lakukan di dunia – sebenarnya “pohon pohon yang kau tancapkan pada sepetak tanah”. Kelak, “pohon-pohon” itu akan berbuah sesuai dengan benih yang ditanamnya, yang seluruhnya akan kembali pada si kau-lirik, meski sekecil zarrah pun. “bauh bunga, wangi akan kau hisap, busuk akan kau hirup seluruh buahnya adalah milikmu manis kau jilat pahit kau telan”.

Puisi ini begitu dalam mengungkap hakikat hidup manusia bahwa sebelum lahir, si kau-lirik telah memiliki janji primordial dengan Tuhan. Lalu, si kau-lirik “lahir dari lubang neraka sekaligus surga” – meski sebenarnya belum ditemukan kehalusan bunyi pada perkawinan kata “lahir” dan “lubang”. Lahir, berarti keluar dari rahim ibu setelah bertapa sembilan bulan sepuluh hari lamanya. “lubang neraka sekaligus surga” adalah pilihan diksi si penyair yang lahir dari keliaran imajenasi yang tak bisa melepaskan diri dari diksi beraroma jenaka-erotisme. “lubang neraka sekaligus surga” lebih dalam dimaknai sebagai sikap yang harus dijaga oleh seorang perempuan, bahwa perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatannya akan menjadi penghuni neraka, dan akan mencium aroma surga bila pandai menjaga kehormatan dirinya.

Ketika seorang bayi lahir, ia keluar dari alam kandungan untuk memasuki dunia baru, yaitu kehidupan di dunia. Dengan demikian, setelah si kau-lirik lahir, ia akan masuk pada babak dunia baru,  “lalu masuk pada alam yang penuh dosa” (?). Kemudian, ketika tiba pada dunia yang lain, “ketika nafasmu tiada lalu bangkit kembali pada alam yang lain” ia harus mempertanggungjawabkan semua amal dan perbuatannya, memikul semua duka dan tawa di hadapan-Nya. Puisi ini hendak mengokohkan bahwa manusia tidak lahir di ruang hampa.  

Terlepas dari semua itu, dalam puisi kedua ini didapati beberapa kekhilafan yang terjadi pada penulisan. Beberapa kata masih belum ditulis sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Sebagai contoh, bauh (mungkin maksudnya bau), nafas (napas), dan doanmu (mungkin doamu). Sebenarnya, cacat pada satu kata, seperti salah ketik atau hurufnya terbalik, tidak terlalu menjadi cela besar. Namun, bagi penulis yang menikmati prosesnya dan menghargai pembacanya, ia akan menghadirkan susunan kata terbaik yang ia punya. 

Sejujurnya, dua puisi ini benar-benar memikat meski tak sampai membawa pembaca pada petualangan yang lebih seru dan baru. Sebab, berbeda belum tentu baru. Mengutip pertanggungjawaban juri Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015, bahwa sulit mendapatkan manuskrip-manuskrip yang menawarkan kesegaran, baik dalam hal tema maupun cara pengucapan; yang bisa memperluas wawasan kita mengenai puisi dan cara berpuisi.

Walaupun begitu, paling tidak, dua judul puisi yang ditawarkan Nikris menjadi bukti bahwa si penulis masih produktif meski mungkin sungguh terseok-seok dalam menemukan tema baru yang masih segar dengan pemilihan diksi yang tepat dan padat.  

Cintailah, rasakan dalam-dalam, dan alirkanlah kekuatan jiwa. Hadirkan sesuatu yang berharga untuk pembaca. Itu akan membuat kata lebih berdaya. Lorraine Monroe menulis, if you don’t love the work you’re doing, you get sick – phisically, mentally, or spiritually. Eventually, you’ll make others sick, too (Jika kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit –secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan, bisa jadi kamu akan membuat orang lain ikut sakit pula).   


*)Latif Fianto, lahir di Sumenep, pecinta buku, menulis cerpen dan esai, sekarang tinggal di Malang bergiat di Komunitas Sastra Malam Reboan.