Oleh:
Latif Fianto*
Sebuah puisi selalu mengajak para
pembacanya untuk menemukan sesuatu yang ada di belakang teks itu. Begitu puisi
sampai ke tangan pembaca, teks seperti liar tak terkendali, menghasilkan
beraneka tafsir makna, yang boleh jadi sesuai dengan maksud si penulis atau
melenceng jauh dari makna sebenarnya. Namun, tatkala makna puisi dicapai sampai
lapis makna kedua (Connotative Semiotics, Louis Hjelmslev, 2012, dalam Narudin,
2015) maka kesan implisit dalam teks puisi akan menjadi eksplisit atau disebut
dengan significance, yaitu makna yang
telah diartikulasikan.
Membaca atau mendengar puisi-puisi
Nikris sebelumnya, telinga seolah selalu tergelitik. Bayang-bayang di kepala diajak
untuk menjelajahi rimba kata Nikris yang lebih cenderung mengeksploitasi
pemujaan pada lekuk tubuh sehingga puisi yang lahir beraroma jenaka-erotisme.
Teks adalah sign yang dalam Semiotika
dapat bermakna taksa atau dwitaksa (Riffaterre, 1978, 1983 dalam Narudin 2015).
Melalui puisi-puisinya, Nikris seolah ingin mengatakan begini dengan maksud
begitu. Dengan demikian, paling tidak ia sudah sukses mengelabuhi pembaca untuk
tidak terjebak pada keliaran diksi yang dibangunnya, tapi jauh menemukan makna
yang dikandungnya.
Namun, membaca dua puisinya berjudul “Secangkir
Kopi Ibu” dan “Doa”, kita disuguhi aroma yang berbeda. Seolah kita sedang duduk
menikmati hidangan dua cangkir puisi yang bercita rasa spiritualisme. Dua judul
puisi yang berbeda namun beraroma sama.
Apakah sesederhana itu? tentu tidak,
sebab menjelajahi puisi Nikris sama halnya berjalan-jalan di dalam alam
pikirannya. Kita mulai saja dengan puisi pertama berjudul “Secangkir Kopi Ibu”
(2015). Membaca judul puisi ini kita seolah diberitahu akan keberadaan
secangkir kopi milik ibu. Kata “milik” bisa saja menunjuk pada kepunyaan, atau
sesuatu yang melekat, baik secara implisit maupun eksplisit. Judul “Secangkir
Kopi Ibu”, lalu pada baris pertama dimulai dengan kalimat “sebelum asap
mengepul” dan “kuminum secangkir rindu dari hitam kopimu” di baris kedua, menegaskan
gambaran judul tersebut. Ibu, sebagai gua pertapaan yang dari rahimnya kita
lahir, selalu menawarkan kehangatan dan kebahagiaan yang melebihi dari segala
jenis kenikmatan.
Frasa “sebelum asap mengepul” merupakan
adverbia waktu. Frasa ini merujuk atau kembali pada secangkir kopi yang sudah
jelas ditaukidi pada kalimat baris kedua “kuminum secangkir rindu dari hitam
kopimu”. Umumnya, ketika secangkir kopi diseduh, sudah tentu asap putih
bergoyang di atasnya, mengindikasikan kopi yang masih hangat. Seseorang akan
meminum kopi yang masih hangat dengan cara meniupnya agar terasa lebih dingin.
Bila bercermin pada kohesi dan koherensi dalam sebuah teks puisi, tidak mungkin
“sebelum asap mengepul” menunjuk pada asap yang mengepul di luar konteks
secangkir kopi. Dengan kata lain, kalimat ini sebenarnya ingin menggambarkan
keadaan kopi yang masih hangat, seperti kerinduan pada dekapan ibu yang hangat.
Berada di dalam dekapannya seolah damai dan tenang. Makna ini terwakili oleh kalimat
“gula waktu yang larut dalam dekap hangatmu menenangkan debur ombak yang
menggebu”.
Mengurai makna yang terkandung dalam
puisi ini akan sangat panjang tersebab puisi ini menawarkan nilai yang sangat
agung, yaitu kerinduan pada sosok ibu setelah terpisah jarak yang sangat jauh. Secara
keseluruhan, puisi ini terbilang cukup bagus, baik secara makna maupun secara
diksi. Namun, lagi-lagi logika seolah tergelitik mendapati perkawinan kata yang
belum menemukan kecocokan, setidaknya bila ditelisik secara sintaksis, yang
tentu saja akan mengurangi kenikmatan jiwa puisi yang dimilikinya. Sebagai misal,
pada baris ketujuh, “kini aku kembali merakit perahu”. Perahu merupakan
kendaraan atau transportasi di atas air, laut dan semacamnya yang sudah utuh
bisa digunakan. “merakit perahu” berarti merakit atau menggandengkan perahu
yang satu dengan perahu lainnya dengan cara diikat atau sejenisnya untuk
“kembali berlayar di laut senyummu”.
Selanjutnya, coba kita perhatikan
penutup dari puisi ini: “Ibu apa arti dari sebuah rindu? selain dzikir serta doa
dari setiap butiran tasbih”. Pertama,
aroma spiritualisme dalam puisi ini mencapai puncaknya pada kalimat penutup
tersebut. Kedua, kalimat “Ibu apa arti dari sebuah rindu?” sebenarnya bukan
sebuah pertanyaan. Kalaupun itu adalah pertanyaan, tentu struktur jawabannya
bukan “selain dzikir serta doa dari setiap butiran tasbih”. “Ibu apa arti dari
sebuah rindu? selain dzikir serta doa dari setiap butiran tasbih” adalah
kalimat positif yang tidak perlu diberikan tanda tanya (?) di antara keduanya.
Sebab, kata “selain” adalah kalimat penyambung untuk mempertegas saja.
Yang lebih menggelitik lagi, mari kita cermati
penutup dari dua puisi berikut ini:
Nariratih, apa yang berharga
dari kesaktian
selain pusaka iman
Subaidi Pratama, Pedang Naga Puspa, 2015 (discussed, 22
Desember 2015)
Ibu apa arti dari sebuah rindu?
selain dzikir serta doa dari setiap butiran tasbih
Nikris Rifiansya, Secangkir Kopi Ibu, 2015 (shared, 28
Desember 2015)
Membaca penutup dua puisi tersebut
sepintas ada kemiripan, hanya pemilihan diksinya saja yang berbeda. Bukan
bermaksud mempersamakan atau membanding-bandingkan. Hanya kebetulan saja
didapati kemiripan, walaupun diyakini pasti tak pernah ada kesengajaan untuk
menyamakan. Sebab, seringkali, pemikiran seseorang tidak jauh berbeda, hanya
daya dan cara ungkapnya saja yang berbeda. Barangkali saja, si penulis perlu
menemukan kreativitas yang berbeda untuk menutup puisinya.
Masuk pada puisi kedua berjudul “Doa”
(2015), aroma religiusitas sangat kental sekali. Tak bisa dipungkiri, dari
judul, baris pertama hingga baris terakhir, puisi ini merepresentasikan spirit
keagamaan. Bisa jadi, puisi ini bentuk dari perenungan si penyair akan proses
penghambaan kepada Tuhan.
Perhatikan pada baris pertama,
lagi-lagi si penulis memulai puisinya dengan adverbia waktu “sebelum dunia
runtuh”. Ada beberapa faktor kemungkinan kenapa si penulis selalu membuka
puisinya dengan karakter yang sama. Pertama,
penulis menekankan betapa berharganya waktu, yang terus mengalir tanpa mau
kembali walau sedetik. Kedua, penulis
tidak bisa keluar dari emosi yang telah dibangun pada puisi pertama sehingga
berlanjut pada puisi kedua yang nyaris sama, tanpa ada ledakan-ledakan diksi.
Ketika hendak memulai puisi kedua, ada ketergantungan pada puisi pertama. Hal
ini terbukti dari kalimat pembuka.
Baris pertama “dunia runtuh”, sebuah
rekonstruksi dari berakhirnya hidup dan kehidupan, maka si kau-lirik akan “kehilangan
ruh”. Kehilangan menunjukkan sebuah peristiwa, yang siap atau pun tidak,
manusia tetap akan binasa. “ayat yang selalu kau nyanyikan adalah cahaya dalam
kamarmu” diletakkan pada baris kedua setelah adverbia waktu “sebelum langit
runtuh”, bahwa cahaya yang berpendar dari ayat – doa atau ayat-ayat suci –
tetap akan menjadi cahaya meski waktu terus bergulir, yaitu sebelum dan setelah
“langit runtuh”. Sebelum hidup dan kehidupan berakhir, doa dan ayat-ayat suci
itu akan menjadi penerang, penunjuk jalan di dunia, begitu pun setelah si kau
mati, cahaya itu akan menerangi, menjadikan liang kubur yang “sempit akan
menjadi luas” atau bahkan ketika dunia ini hancur berganti dengan dunia yang
lain, cahaya itu tetap akan menerangi semua tempat atau dunia di mana kau
berdiam, yang tergambar pada frasa“dalam kamarmu”.
Setiap perbuatan – entah perbuatan baik
atau pun buruk – yang si kau-lirik lakukan di dunia – sebenarnya “pohon pohon
yang kau tancapkan pada sepetak tanah”. Kelak, “pohon-pohon” itu akan berbuah
sesuai dengan benih yang ditanamnya, yang seluruhnya akan kembali pada si
kau-lirik, meski sekecil zarrah pun. “bauh bunga, wangi akan kau hisap, busuk
akan kau hirup seluruh buahnya adalah milikmu manis kau jilat pahit kau telan”.
Puisi ini begitu dalam mengungkap
hakikat hidup manusia bahwa sebelum lahir, si kau-lirik telah memiliki janji
primordial dengan Tuhan. Lalu, si kau-lirik “lahir dari lubang neraka sekaligus
surga” – meski sebenarnya belum ditemukan kehalusan bunyi pada perkawinan kata
“lahir” dan “lubang”. Lahir, berarti keluar dari rahim ibu setelah bertapa
sembilan bulan sepuluh hari lamanya. “lubang neraka sekaligus surga” adalah
pilihan diksi si penyair yang lahir dari keliaran imajenasi yang tak bisa
melepaskan diri dari diksi beraroma jenaka-erotisme. “lubang neraka sekaligus
surga” lebih dalam dimaknai sebagai sikap yang harus dijaga oleh seorang
perempuan, bahwa perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatannya akan menjadi
penghuni neraka, dan akan mencium aroma surga bila pandai menjaga kehormatan
dirinya.
Ketika seorang bayi lahir, ia keluar
dari alam kandungan untuk memasuki dunia baru, yaitu kehidupan di dunia. Dengan
demikian, setelah si kau-lirik lahir, ia akan masuk pada babak dunia baru, “lalu masuk pada alam yang penuh dosa” (?).
Kemudian, ketika tiba pada dunia yang lain, “ketika nafasmu tiada lalu bangkit
kembali pada alam yang lain” ia harus mempertanggungjawabkan semua amal dan
perbuatannya, memikul semua duka dan tawa di hadapan-Nya. Puisi ini hendak
mengokohkan bahwa manusia tidak lahir di ruang hampa.
Terlepas dari semua itu, dalam puisi
kedua ini didapati beberapa kekhilafan yang terjadi pada penulisan. Beberapa
kata masih belum ditulis sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Sebagai contoh,
bauh (mungkin maksudnya bau), nafas (napas), dan doanmu (mungkin doamu).
Sebenarnya, cacat pada satu kata, seperti salah ketik atau hurufnya terbalik, tidak
terlalu menjadi cela besar. Namun, bagi penulis yang menikmati prosesnya dan
menghargai pembacanya, ia akan menghadirkan susunan kata terbaik yang ia
punya.
Sejujurnya, dua puisi ini benar-benar
memikat meski tak sampai membawa pembaca pada petualangan yang lebih seru dan
baru. Sebab, berbeda belum tentu baru. Mengutip pertanggungjawaban juri Sayembara
Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015, bahwa sulit mendapatkan
manuskrip-manuskrip yang menawarkan kesegaran, baik dalam hal tema maupun cara
pengucapan; yang bisa memperluas wawasan kita mengenai puisi dan cara berpuisi.
Walaupun begitu, paling tidak, dua judul
puisi yang ditawarkan Nikris menjadi bukti bahwa si penulis masih produktif
meski mungkin sungguh terseok-seok dalam menemukan tema baru yang masih segar
dengan pemilihan diksi yang tepat dan padat.
Cintailah, rasakan dalam-dalam, dan
alirkanlah kekuatan jiwa. Hadirkan sesuatu yang berharga untuk pembaca. Itu
akan membuat kata lebih berdaya. Lorraine Monroe menulis, if you don’t love the work you’re doing, you get sick – phisically,
mentally, or spiritually. Eventually, you’ll make others sick, too (Jika
kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit
–secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan, bisa jadi kamu akan membuat
orang lain ikut sakit pula).
*)Latif
Fianto,
lahir di Sumenep, pecinta buku, menulis cerpen dan esai, sekarang tinggal di
Malang bergiat di Komunitas Sastra Malam Reboan.
Komentar