Jakarta - Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila
(UKP-PIP) menjanjikan cara berbeda dalam menumbuhkan nilai Pancasila ke
masyarakat. UKP-PIP akan melakukan pendekatan ke budaya pop agar lebih
diterima publik.
"Perlu pendekatan atraktif yang sentuh sanubari
perasaan menerima Pancasila, bukan tekanan tapi kerelaan dan daya tarik
orang-orang itu lewat instrumen seni; musik, film, mungkin komik,
berbagai alat multimedia kita gunakan," kata Kepala Pelaksana UKP-PIP
Yudi Latif dalam wawancara dengan detikcom di kediamannya, Jl Bunga
Lily, Bintaro, Jakarta Selatan, Kamis (8/6/2017).
Pemerintah, melalui UKP-PIP, tak ingin tafsir Pancasila bersifat searah. Sehingga masyarakat akan dilibatkan.
"Tentu
selain Pancasila yang kontennya umum kalau di daerah kita pastikan
kearifan lokal juga masuk, jadi pengertian Pancasila ideologi terbuka di
situ. Jadi selalu bisa diisi berbagai komunitas, bukan tafsir tunggal.
Negara memberi pokok pikiran saja, tentang bagaimana pokok pikiran itu
bisa di-share oleh komunitas," tutur Yudi.
Yudi juga mengusulkan
agar kantor UKP-PIP tak di lingkungan Istana, agar masyarakat lebih
mudah mengakses. Masyarakat diharapkan tak sungkan-sungkan bila ingin
memberi masukan nantinya.
"Dengan melibatkan komunitas termasuk
para sineas, musisi, bisa kita ajak untuk artikulasikan Pancasila dalam
musik, dalam film. Kita juga bikin sayembara film pendek untuk anak
muda, bagaimana mereka menafsir toleransi, mungkin mereka akan abadikan
tentang realitas yang mereka hadapi. Nah, film pendek semacam ini bisa
jadi khasanah kebudayaaan supaya nanti bisa dipakai guru-guru dalam
proses pembelajaran Pancasila di sekolah," papar dia.
Meski
demikian UKP-PIP juga akan menyaring karya seni yang dirilis lewat
lembaga itu. Sehingga hasil kreasi yang dihasilkan tak menuai
kontroversi atau malah dianggap merendahkan Pancasila.
"Tapi kalau
di luar UKP, kita bisa beri masukan. Tapi kan kita tak bisa (mengatur),
ini kan bukan lembaga otoritarian di mana setiap orang harus minta izin
UKP. Jadi silakan saja, kalau di publikasi mengandung dimensi sensitif
kita kan punya pemantau jadi mungkin kita sifatnya beri masukan terhadap
konten seperti itu," kata Yudi. (Detik.com)
Komentar