Multimedia dinilai memengaruhi perilaku dan minat
siswa untuk membaca narasi secara utuh. Siswa cenderung membaca serpihan naskah
secara instan melalui situs berita dan blog ketimbang membaca buku secara
tuntas.
Upaya sekolah mengadaptasi naskah buku dari versi
cetak ke digital pun ternyata tidak serta-merta menggairahkan minat baca siswa
terhadap teks yang terstruktur dan sistematis.
Di SMA Negeri 78 Jakarta, misalnya, perpustakaan
melakukan digitalisasi sejak 2013. Hal itu memungkinkan siswa dan guru
mengakses buku koleksi sekolah dengan komputer jinjing dan telepon pintar.
Namun, siswa belum antusias memanfaatkan fasilitas tersebut.
Sebagai contoh, untuk menggali bahan bacaan tentang
suatu teori atau konsep, siswa lebih cenderung mencari bahan dari situs
tertentu melalui mesin pencari data/informasi ketimbang membaca buku versi
cetak ataupun PDF.
"Tentang Teori Evolusi Darwin, misalnya,
rasanya lebih mudah mencarinya dari situs web ketimbang membaca bukunya,"
kata Cornelia, siswi kelas XI IPA SMA 78, Rabu (3/2).
Paramita (17), siswi kelas XII IPS SMAN 29 Jakarta,
pun merasa nyaman memelototi gawai ketimbang buku cetak. Visualisasi di situs
lebih atraktif sehingga menarik dibaca. "Lagi pula, tulisan di web tidak
terlalu panjang, berbeda dengan buku," ujarnya.
Bahkan, Rama (16), siswa kelas XI IPS SMAN 4
Tangerang Selatan, lebih memilih membuka situs video digital ketimbang membaca
buku. Menurut dia, video di kanal digital lebih mengasah kreativitas dan bakat
dirinya.
"Visualisasi video amat konkret terhadap suatu
keadaan. Berbeda dengan membaca buku yang lebih imajinatif," katanya.
Instan
Pegiat pendidikan Amanda P Witdarmono menilai,
siswa kini cenderung menyimak informasi secara instan sehingga bacaannya pun
selintas. "Karena terbiasa membaca tulisan pendek, minat untuk membaca
naskah yang runtut dan sistematis tidak tumbuh," ujarnya.
Pakar pendidikan dari Universitas Terbuka, Dodi
Sukmayadi, mengatakan, cara kebanyakan guru menerjemahkan Kurikulum 2013 belum
menumbuhkan kebutuhan siswa untuk membaca. Upaya siswa mencari informasi di
luar jam sekolah dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban.
"Siswa hanya mencari teks informasional untuk
disalin karena tugas sekolah. Mereka tidak berusaha memahami informasi itu lebih
dalam karena merasa tidak membutuhkannya," kata Dodi.
Tradisi
verbal
Bagi Dodi, masalah utama adalah membaca belum
menjadi budaya bangsa. Tradisi verbal, seperti berkisah dan mendongeng, jauh
lebih kuat dibandingkan dengan menulis dan membaca. Karena itu, kebutuhan
membaca harus dibangun dengan cara menyesuaikan bahan bacaan dengan
ketertarikan.
Program
15 menit
Direktur Jenderal Kebudayaan pada Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, program 15 menit membaca
sebelum pelajaran sekolah dimulai menjadi salah satu momentum penanaman nilai
moral dan jati diri atau identitas bangsa. Program tersebut tertuang dalam
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.
Pemilihan bahan bacaan untuk menunjang hal itu
hendaknya berupa karya sastra dan naskah-naskah tua asli Tanah Air. "Kita
sebelumnya tidak pernah dikenalkan secara lengkap karya-karya tertulis yang
pernah diciptakan di Tanah Air," kata Hilmar.
Dengan demikian, minat baca tidak hanya menambah
pengetahuan terutama terhadap sejarah bangsa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran
sejarah bangsa.
Temuan serta pandangan para narasumber tersebut
relevan dengan hasil jajak pendapat Litbang Kompas pada
5-6 September 2015. Hasilnya, rata-rata lama membaca buku warga Indonesia hanya
6 jam per minggu (Kompas15/9/2015).
Bandingkan dengan warga India yang rata-rata
membaca buku 10 jam per minggu, Thailand 9 jam per minggu, dan Tiongkok 8 jam
per minggu.
Survei Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan
Kebudayaan PBB (UNESCO) 2012 menunjukkan, hanya satu dari 1.000 orang di
Indonesia yang memiliki minat baca serius. Rata-rata, kurang dari satu buku
yang dibaca per tahun.
Dilansir dari: www.kompas.com
Komentar