Paradigma Sehat Harus Konkret -->

Iklan Semua Halaman

Paradigma Sehat Harus Konkret

Rabu, 20 Januari 2016
Oleh: ADHITYA RAMADHAN

BANJARMASIN, KOMPAS — Pemerintah harus lebih berkomitmen untuk menjadikan paradigma sehat sebagai norma di masyarakat ke dalam program dan kegiatan nyata yang lebih bersifat promotif dan preventif dibanding kuratif.

Hal itu disampaikan Guru Besar Ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hadi Pratomo pada hari terakhir Kongres Nasional Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia) XII di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (20/1).

Hadi mengatakan, sebenarnya pemerintah telah sadar pentingnya kegiatan promotif preventif dibandingkan kuratif. Akan tetapi, implementasinya masih minim. "Realisasinya perlu waktu. Perlu perubahan paradigma dan pendekatan dalam pelayanan kesehatan," katanya.

Hadi mencontohkan, puskesmas yang seharusnya berfungsi sebagai pembina kesehatan wilayah di satu lokasi tertentu selama ini hanya menjadi tempat pengobatan orang sakit.
Padahal, puskesmas harus memberdayakan, menjaga, dan mencegah masyarakat yang ada di wilayahnya tetap sehat dan tidak jatuh sakit. "Harus jadi pusat kesehatan bukan kesakitan," ujarnya.

Apabila pemerintah hanya fokus pada upaya kuratif, hal itu akan berdampak pada tingginya pembiayaan kesehatan. Saat ini saja biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sudah sangat besar. Upaya promotif dan preventif yang dilakukan BPJS Kesehatan juga hanya ditujukan kepada peserta BPJS Kesehatan yang sudah telanjur sakit.

Kegiatan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit memerlukan kampanye dan edukasi yang terus-menerus kepada masyarakat agar paradigma sehat menjadi norma di tengah masyarakat. Hadi mencontohkan apa yang dilakukan perusahaan makanan cepat saji dengan mengiklankan produknya terus-menerus di media. Dengan iklan yang terus-menerus di media, perusahaan industri menanamkan kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji menjadi norma yang umum di masyarakat.

"Dengan edukasi dan kampanye, harapannya akan semakin banyak orang yang peduli dengan kesehatan. Semakin banyak orang yang peduli dan bicara kesehatan akan lebih baik," tutur Hadi.

Tanggung jawab semua

Ketua Umum Perinasia Terpilih periode 2016-2018 Ali Sungkar menyatakan, ke depan beban masalah kesehatan, terutama terkait kematian ibu dan bayi, tidak semakin mudah. Apalagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sudah mulai diterapkan. Intervensi untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) tidak bisa hanya dari sektor kesehatan karena ada banyak faktor lain di luar kesehatan yang memengaruhi.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 32 per 1.000 kelahiran hidup.

Penurunan AKI dan AKB menjadi tanggung jawab semua pihak. Perinasia, ujar Ali, ke depan akan terus fokus pada kegiatan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan agar lebih terampil dalam mendampingi dan mengedukasi ibu hamil, menolong persalinan, dan mengidentifikasi jika ada masalah kesehatan yang muncul, baik pada ibu maupun bayinya sejak kehamilan hingga pasca-bersalin.

Beberapa pelatihan dari Perinasia untuk tenaga kesehatan ialah resusitasi neonatal, manajemen laktasi, konselor laktasi modul 40 jam dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), helping baby breathe (HBB), dan helping mother survive (HMS).

Dilansir dari: www.kompas.com