Ormas Kunci Toleransi -->

Iklan Semua Halaman

Ormas Kunci Toleransi

Jumat, 25 Maret 2016
Logo Nahdlatul Ulama
Organisasi massa keagaman seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah berperan penting meningkatkan toleransi di Indonesia. Namun, kedua ormas itu juga menghadapi tantangan internal dan eksternal yang tidak ringan.

Penulis buku Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance without Liberalism, Jeremy Menchik, saat berdiskusi di Jakarta, Senin (7/3), mengatakan, salah satu pihak yang menjadi tulang punggung untuk memperbaiki situasi ini adalah kelompok ormas keagamaan. Seperti dilansir dari Kompas, Kamis, 24 Maret 2016.

"Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang tinggi. Toleransinya adalah sebuah kisah sukses. (Memang) tidak sempurna, tetapi ini harus dijaga terus untuk menciptakan keadilan," tutur Menchik.

Dari penelitiannya selama dua tahun di Indonesia, Menchik menemukan level toleransi di Indonesia tak jauh melebihi dari 50 persen. "Nilai ini termasuk rata-rata di negara berkembang, tetapi sangat rendah dibandingkan dengan negara demokrasi yang maju," ujarnya.

Meski demikian, tambah Menchik, hal ini tidak menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menjadi tidak toleran. Nilai toleransi ini masih bisa terus bertambah jika masyarakat dan pemerintah sama-sama mengusahakan terwujudnya toleransi sungguh-sungguh di Indonesia.

Dalam kesimpulan Menchik, kelompok ormas yang beranggotakan jutaan masyarakat harus bergerak untuk menentang intoleransi. Alasannya, suara ormas sangat didengar oleh elite politik hingga masyarakat di tingkat akar rumput.

"Konsep toleransi adalah sesuatu yang historis dan diproduksi oleh struktur dan agen yang selama hampir seratus tahun diwujudkan oleh ormas agama. Indonesia mengenal bentuk communal tolerance atau toleransi masyarakat yang jamak berlaku di negara berketuhanan seperti Indonesia. Contohnya adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai ormas yang membantu mewujudkan toleransi di Indonesia," kata Menchik.

Menurut dia, toleransi masyarakat diwujudkan oleh ormas agama yang mendukung demokrasi. "Misalnya, NU menjun-jung keadilan, keseimbangan, moderasi, melakukan yang baik, dan menjauhi yang jahat," ujarnya.

Islam juga mengajarkan untuk saling menghormati dan kebebasan beribadah, tetapi tidak dengan mencampurkan agama dan tidak menghina agama lain. Karena itu, pemahaman itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari anggotanya.

"Ormas Islam toleran dalam hubungan sosial, baik di ranah publik maupun privat. Hal ini seharusnya dijunjung oleh sekitar 60 juta anggota NU dan 30 juta anggota Muhammadiyah," ujar Menchik.

Menchik menekankan, kelompok mayoritas seperti NU dan Muhammadiyah harus berperan aktif dalam menciptakan toleransi.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan, prestasi baik toleransi di Indonesia dicederai maraknya kasus intoleransi belakangan ini. Dalam enam tahun terakhir, ia mencatat sejumlah isu sektarianisme yang membuat sejumlah kaum minoritas terlanggar hak-haknya dan terusir dari rumah mereka sendiri. "Ini ancaman terhadap Indonesia. Oleh karena itu, ormas harus konsisten terhadap janji mereka mewujudkan toleransi," ujarnya.

Terus perbaiki

Sejauh ini, dua organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, terus berupaya memperbaiki toleransi di Indonesia meskipun menghadapi tantangan internal dan eksternal.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU Helmy Faishal Zaini menuturkan, NU terus mendorong pemahaman pentingnya kebersamaan dan toleransi melalui pesantren-pesantren. Menurut dia, tantangan mempertahankan dan mendorong toleransi semakin membesar di tengah masuknya paham-paham radikal dari luar negeri.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan, selama ini Muhammadiyah mendorong toleransi melalui kegiatan internal, membangun dialog dan mempromosikan paham Islam moderat ke ruang publik, dan membangun komunikasi dan kerja sama lintas iman, terutama di bidang kemanusiaan dan ekonomi, dan bidang lainnya. (Oci)