![]() |
| Logo Nahdlatul Ulama |
Organisasi massa keagaman seperti Nahdlatul Ulama
dan Muhammadiyah berperan penting meningkatkan toleransi di Indonesia. Namun,
kedua ormas itu juga menghadapi tantangan internal dan eksternal yang tidak
ringan.
Penulis buku Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance
without Liberalism, Jeremy Menchik, saat berdiskusi di Jakarta,
Senin (7/3), mengatakan, salah satu pihak yang menjadi tulang punggung untuk
memperbaiki situasi ini adalah kelompok ormas keagamaan. Seperti dilansir dari Kompas, Kamis, 24 Maret 2016.
"Indonesia adalah negara dengan keberagaman
yang tinggi. Toleransinya adalah sebuah kisah sukses. (Memang) tidak sempurna,
tetapi ini harus dijaga terus untuk menciptakan keadilan," tutur Menchik.
Dari penelitiannya selama dua tahun di Indonesia,
Menchik menemukan level toleransi di Indonesia tak jauh melebihi dari 50
persen. "Nilai ini termasuk rata-rata di negara berkembang, tetapi sangat
rendah dibandingkan dengan negara demokrasi yang maju," ujarnya.
Meski demikian, tambah Menchik, hal ini tidak
menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menjadi tidak toleran. Nilai toleransi
ini masih bisa terus bertambah jika masyarakat dan pemerintah sama-sama
mengusahakan terwujudnya toleransi sungguh-sungguh di Indonesia.
Dalam kesimpulan Menchik, kelompok ormas yang
beranggotakan jutaan masyarakat harus bergerak untuk menentang intoleransi.
Alasannya, suara ormas sangat didengar oleh elite politik hingga masyarakat di
tingkat akar rumput.
"Konsep toleransi adalah sesuatu yang historis
dan diproduksi oleh struktur dan agen yang selama hampir seratus tahun
diwujudkan oleh ormas agama. Indonesia mengenal bentuk communal tolerance atau toleransi masyarakat yang jamak
berlaku di negara berketuhanan seperti Indonesia. Contohnya adalah Nahdlatul
Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai ormas yang membantu mewujudkan toleransi di
Indonesia," kata Menchik.
Menurut dia, toleransi masyarakat diwujudkan oleh
ormas agama yang mendukung demokrasi. "Misalnya, NU menjun-jung keadilan,
keseimbangan, moderasi, melakukan yang baik, dan menjauhi yang jahat,"
ujarnya.
Islam juga mengajarkan untuk saling menghormati dan
kebebasan beribadah, tetapi tidak dengan mencampurkan agama dan tidak menghina
agama lain. Karena itu, pemahaman itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
anggotanya.
"Ormas Islam toleran dalam hubungan sosial,
baik di ranah publik maupun privat. Hal ini seharusnya dijunjung oleh sekitar
60 juta anggota NU dan 30 juta anggota Muhammadiyah," ujar Menchik.
Menchik menekankan, kelompok mayoritas seperti NU
dan Muhammadiyah harus berperan aktif dalam menciptakan toleransi.
Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul
Haq mengatakan, prestasi baik toleransi di Indonesia dicederai maraknya kasus
intoleransi belakangan ini. Dalam enam tahun terakhir, ia mencatat sejumlah isu
sektarianisme yang membuat sejumlah kaum minoritas terlanggar hak-haknya dan
terusir dari rumah mereka sendiri. "Ini ancaman terhadap Indonesia. Oleh
karena itu, ormas harus konsisten terhadap janji mereka mewujudkan
toleransi," ujarnya.
Terus
perbaiki
Sejauh ini, dua organisasi masyarakat Islam
terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, terus berupaya memperbaiki
toleransi di Indonesia meskipun menghadapi tantangan internal dan eksternal.
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU Helmy Faishal
Zaini menuturkan, NU terus mendorong pemahaman pentingnya kebersamaan dan
toleransi melalui pesantren-pesantren. Menurut dia, tantangan mempertahankan
dan mendorong toleransi semakin membesar di tengah masuknya paham-paham radikal
dari luar negeri.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul
Mu'ti mengatakan, selama ini Muhammadiyah mendorong toleransi melalui kegiatan
internal, membangun dialog dan mempromosikan paham Islam moderat ke ruang
publik, dan membangun komunikasi dan kerja sama lintas iman, terutama di bidang
kemanusiaan dan ekonomi, dan bidang lainnya. (Oci)
Komentar