PBNU Gelar Konferensi Islam Moderat -->

Iklan Semua Halaman

PBNU Gelar Konferensi Islam Moderat

Sabtu, 26 Maret 2016
Logo NU
Menyikapi perkembangan dunia yang makin resah karena banyaknya serangan teroris dan kekerasan atas nama agama, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menginisiasi konferensi internasional ulama Muslim dari 40 negara. Konferensi itu dimaksudkan untuk mencari jalan keluar atas problem yang dihadapi dunia, khususnya yang berkaitan dengan peran Islam.

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, Rabu (23/3), di Jakarta, mengatakan, peperangan yang berkecamuk di negara-negara Islam, mulai dari Afrika Utara hingga Timur Tengah, tak lepas dari adanya masalah dalam Islam. Menurut dia, hal itu tidak perlu ditutupi dan karena itu harus dihadapi dengan membuat solusi bersama di antara ulama-ulama Muslim di dunia. Seperti dilansir dari Kompas, Kamis, 24 Maret 2016.

"Tidak perlu lagi ada penyangkalan. Sumber masalah dari peperangan dan pertikaian di Timur Tengah itu, termasuk juga sejumlah serangan yang dilakukan oleh garis keras, adalah Islam. Ada problem di dalam Islam yang harus kita selesaikan. Untuk bisa meredam itu semua, harus dimulai dari sumber persoalannya," kata Yahya.

NU sebagai organisasi massa Muslim terbesar di dunia merasa ikut bertanggung jawab atas kekerasan yang kini mengancam dunia. Dengan alasan itu, konferensi bertajuk "International Summit of The Moderate Islamic Leader" akan digelar pada 8-11 Mei mendatang di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta. Menurut rencana, konferensi itu akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo dan ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Ulama-ulama Muslim dari sejumlah negara diundang hadir untuk membicarakan sejumlah hal, mulai dari persoalan teologi hingga ekonomi. Pandangan Islam moderat diperbincangkan dan dipertukarkan dalam konferensi tersebut. Harapannya pandangan moderat bisa ditularkan dan dikembangkan sehingga bisa menghapus pandangan buruk soal Islam di dunia internasional.

"Kekerasan di dunia tidak bisa kita anggap jauh dari Indonesia karena kita adalah negara Muslim terbesar di dunia. Sudah seharusnya Indonesia mengambil peran dan inisiatif untuk mempertemukan ulama-ulama dunia membahas problem ini. Indonesia punya kekuatan untuk itu karena negara kita tidak punya kepentingan, tidak seperti Irak, Iran, Suriah, bahkan Arab Saudi, yang pasti punya kepentingan. Indonesia netral," katanya.

Ketua Organizing Committe M Imam Azis mengatakan, tokoh dan ulama yang diundang hadir berjumlah 200 orang. Sejumlah nama besar akan hadir, seperti Muhammad Junus, merupakan perintis bank untuk orang miskin di Banglades; Syekh Ali Jumah, ulama Mesir; dan beberapa ahli ekonomi dan teori agama dari Eropa. (Mil)