![]() |
| Logo NU |
Menyikapi perkembangan dunia yang makin resah
karena banyaknya serangan teroris dan kekerasan atas nama agama, Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama menginisiasi konferensi internasional ulama Muslim dari 40
negara. Konferensi itu dimaksudkan untuk mencari jalan keluar atas problem yang
dihadapi dunia, khususnya yang berkaitan dengan peran Islam.
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Yahya Cholil Staquf, Rabu (23/3), di Jakarta, mengatakan, peperangan yang
berkecamuk di negara-negara Islam, mulai dari Afrika Utara hingga Timur Tengah,
tak lepas dari adanya masalah dalam Islam. Menurut dia, hal itu tidak perlu
ditutupi dan karena itu harus dihadapi dengan membuat solusi bersama di antara
ulama-ulama Muslim di dunia. Seperti dilansir dari Kompas, Kamis, 24 Maret 2016.
"Tidak perlu lagi ada penyangkalan. Sumber
masalah dari peperangan dan pertikaian di Timur Tengah itu, termasuk juga
sejumlah serangan yang dilakukan oleh garis keras, adalah Islam. Ada problem di
dalam Islam yang harus kita selesaikan. Untuk bisa meredam itu semua, harus
dimulai dari sumber persoalannya," kata Yahya.
NU sebagai organisasi massa Muslim terbesar di
dunia merasa ikut bertanggung jawab atas kekerasan yang kini mengancam dunia.
Dengan alasan itu, konferensi bertajuk "International Summit of The Moderate
Islamic Leader" akan digelar pada 8-11 Mei mendatang di Jakarta Convention
Center, Senayan, Jakarta. Menurut rencana, konferensi itu akan dibuka oleh
Presiden Joko Widodo dan ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Ulama-ulama Muslim dari sejumlah negara diundang
hadir untuk membicarakan sejumlah hal, mulai dari persoalan teologi hingga
ekonomi. Pandangan Islam moderat diperbincangkan dan dipertukarkan dalam
konferensi tersebut. Harapannya pandangan moderat bisa ditularkan dan
dikembangkan sehingga bisa menghapus pandangan buruk soal Islam di dunia
internasional.
"Kekerasan di dunia tidak bisa kita anggap
jauh dari Indonesia karena kita adalah negara Muslim terbesar di dunia. Sudah
seharusnya Indonesia mengambil peran dan inisiatif untuk mempertemukan
ulama-ulama dunia membahas problem ini. Indonesia punya kekuatan untuk itu
karena negara kita tidak punya kepentingan, tidak seperti Irak, Iran, Suriah,
bahkan Arab Saudi, yang pasti punya kepentingan. Indonesia netral,"
katanya.
Ketua Organizing Committe M Imam Azis mengatakan,
tokoh dan ulama yang diundang hadir berjumlah 200 orang. Sejumlah nama besar
akan hadir, seperti Muhammad Junus, merupakan perintis bank untuk orang miskin
di Banglades; Syekh Ali Jumah, ulama Mesir; dan beberapa ahli ekonomi dan teori
agama dari Eropa. (Mil)
Komentar