Sahabatku bertanya,
Seorang
sahabat bertanya pada otak sang penggiat kerja
Kenapa
kau sudahi berdiskusi diwaktumu ?
Kenapa
kau tak lagi mencatat harianmu ?
“Aku
berikan senyuman tipis”
Bukankan
waktu sudah mengadili para sang penggiat kerja
Bukankah
harian telah merubah pada cerita
Bahwa
sosok telah tiada
Tidak
usah kusebutkan objek,
Bertanya,
hingga bertanya pada air mata.
Seperti
catatan hari terakhir dimana langkah gemetar
Dan
bibir bergumam tidak berarti, kaki melangkahi arah seperti kesurupan
Saat
itu bukan aku sudahi berdiskusi
Saat
itu catatanku hanya selalu satu tema.
Tidak
sepertimu, yang berkorona dalam sisi hitam
Masih
seperti itu, dengan luapan kuasa
Menjadikan
suaramu menerkam otak, untuk kembali mencatat
Sudah
tidak ada suara disumpahkan
Hingga
menunggu dari sumpah dari sang pesumpah
Bukan
aku kafir mengadili ini
Tapi
ini kafir bila tidak diadili
Aku
datangi ruangan kosong yang sebelumnya tidak ada tema pada tulisan
Bahwa
takdir untuk kita masing-masing bukan berantai.
Malang,
2017
Kaku Merampas Senyummu
Masih
seperti bandara melepas
Seakan
terampas, menunggu hingga seperti tugu
Kaku
melihat gambar selfi dugu
Itu
yang ku teruskan dalam status twitterku
I tried immediately turn my writes
from you
Namun,
segeralah fajar berkicau di ujung lautan menepis bibir kelopak mata
Satu
tambah satu sama dengan dua
Namun
dua yang ku tunggu malah bukan pasti bertambahnya
Hingga
dua dikurangi satu menjadi satu bahkan satu terkurang nol bahkan kosong.
Kekosongan
bukan bertambah malah terampas senyummu
Yang
berkicau tiap keahlian lincah
Ku
duga rasa pecah berkepingan sampai di ujung lagu
Terkira
bahkan menyatu menjadi satu
Akhirnya
terhenyah ragu dan kaku.
Malang,
2017
Diadu Takdir Bukan Seharusnya
Dimana
kaki sebelahku saat itu,
Dimana
otak sebelahku saat itu,
saat
ini atau saat itu,
Saat
gerimis bahkan gemuruh hujan membanjiri tabir mu.
*Juhari
Uha, Mahasiswa Teknik Kimia, Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri)
Malang, sekarang sedang berjuang menyelesaikan studinya.
Komentar