Oleh: Miqdad Husein.
Ini tentang cerita seorang teman yang aktif sebagai khotib di
Jakarta. Ia yang selalu memilih materi terkait persoalan sosial dalam
berkhotbah pernah diadili seorang jamaah sholat Jumat. Apa pasal?
Sederhana. Ia dalam kesempatan itu mengupas tentang bagaimana bersikap
cerdas sebagai rakyat menghadapi pemimpin terpilih.
“Usai Pilkada Jakarta tugas ummat belum selesai. Justru baru dimulai.
Kita haus mengawal janji pemimpin terpilih agar melaksanakan janjinya.
Kita harus mengawasi kinerjanya agar senantiasa berada di jalan yang
benar. Kita harus mengkritisi pemimpin yang kita dukung bila ternyata
melakukan kekeliruan. Itu antara lain materi khotbah saya,” katanya.
Usai khotbah seorang jamaah seperti diceritakannya mendekat dan
melontarkan kalimat bernada sinis. “Khotbah ustad seperti kurang
mendukung kemenangan Anies-Sandi. Ustad terkesan justru seperti lebih
banyak mempersoalkan terpilihnya Anies-Sandi,” cerita kawan.
Dengan halus, seperti diceritakannya, ia mencoba memberi penjelasan
bahwa mendukung seorang pemimpin tidak membiarkan begitu saja usai
memilih. Justru dukungan yang sesungguhnya ketika seorang pemimpin
menjalankan tugas kepemimpinan. “Di periode kepemimpinannya ummat harus
mengawasi, mengingatkan, mengkritisi agar senantiasa amanah,” katanya,
mencoba memberi pengertian pada jamaah yang sangat bersemangat itu.
Mengkritisi dan mengawasi tambahnya lagi, tidak berarti permusuhan
dan kebencian. Kritik bagian dari dukungan demi keberhasilan
kepemimpinan seseorang. Mendukung tak berarti membiarkan seorang
pemimpin bekerja tanpa pengawasan.
Tentu saja, masih kata kawan tadi, kritik terbaik bersifat
konstruktif, membangun dan bukan atas dasar sinisme politik. Kritik
bernuansa mengawasi dan memberikan solusi. “Kritiklah seperti memanasi
besi lalu meluruskan. Jangan mengkritik seperti membakar kayu hingga
habis semuanya tanpa sisa,” jelas khotib muda itu, memberikan
perumpamaan.
Teman tadi juga memaparkan dalam khotbahnya bahwa dalam agama Islam
mengkritisi dan mengawasi memimpin bukan hanya harus tapi wajib sebagai
bagian dari tanggungjawab amar ma’ruf nahi munkar. Keberhasilan
kepemimpinan sebagian justru karena adanya pengawasan dan kritik dari
orang-orang yang dipimpin. Demikian pula sebaliknya, seringkali
kegagalan seorang pemimpin terjadi antara lain karena rakyat yang
dipimpin membiarkan berbagai kesalahan pemimpin. Berulang kali pemimpin
berbuat salah dibiarkan.
“Karena pemimpin berbuat salah didiamkan, ia merasa apa yang
dilakukan benar. Ia makin berani melakukan kesalahan sehingga makin lama
bukan amanah rakyat yang dijalankan melainkan kesalahan yang bisa jadi
kepentingan dirinya, kepentingan kelompoknya. Pelan-pelan bahkan makin
membuat dirinya merasa paling benar. Ia bukan lagi melayani rakyat tapi
rakyatlah yang dipaksa melayani dirinya,” katanya, menjelaskan.
Inilah bila dukungan dimaknai sebagai penyerahan segalanya kepada
pemimpin seakan memberikan hak untuk melakukan apapun. Padahal dukungan
merupakan respon aktif karena visi misi, janji, semangat dari pemimpin
sejalan kepentingan rakyat pendukung. Karena rakyat merasa memiliki
harapan akan dipenuhi kepentingannya ia memilih seseorang menjadi
pemimpin. Bukankah menjadi kewajiban rakyat mengawal, menuntut,
mengawasi pemimpin agar bekerja sesuai apa yang dijanjikan, sesuai visi
dan misinya.
Inilah relasi pemimpin dan rakyat pendukungnya bila ingin
kepemimpinan senantias berjalan di jalur yang benar. Rakyat pendukung
selalu menjadi bagian dari seluruh kinerja kepemimpinan. Rakyat dilayani
kepentingannya sesuai janji saat kampanye. Seluruhnya berjalan rasional
dan bukan emosional cinta buta.
Jadi mengawasi bukan atas dasar kebencian tapi rasa cinta dan
dukungan. Mengkritisi bukan mempreteli tapi merivisi jalan kepemimpinan
agar kembali dalam bingkai janji dan visi misi. Itu jika ingin
kepemimpinan memberikan manfaat bagi seluruh rakyat tanpa kecuali. (*)
Komentar