![]() |
| Dok. Google |
Pelestarian keanekaragaman
hayati dan ekosistem cenderung masih dipandang penghambat pertumbuhan ekonomi.
Padahal, konservasi berpengaruh terhadap sektor ekonomi, yakni menekan risiko
bencana yang merugikan serta bisa dimanfaatkan menghasilkan pendapatan.
"Kunci utama penyelamatan biodiversitas adalah
menyediakan rumah aman, yaitu habitat asli mereka. Masalahnya, kebutuhan
ekonomi dan konservasi sering dipertentangkan," ujar Direktur Jenderal
Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Tachrir Fathoni, Sabtu (19/3), di Jakarta. Contohnya, masyarakat
perlu berjalan menembus hutan untuk menopang kegiatan ekonomi, sedangkan jalan
itu memotong jalur satwa liar.
Tachrir berbicara dalam Dialog Teras Kita
bertemakan "Menyelamatkan Kelestarian Keanekaragaman Hayati dari Ancaman
Kepunahan" yang digelar harian Kompas bekerja
sama dengan Radio Sonora FM, dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada
(Kagama). Pembicara lain adalah Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead,
Dekan Fakultas Kehutanan UGM Satyawan Pudyatmoko, dan Manajer Konservasi Forum
Konservasi Leuser Rudi Putra. Wartawan Kompas, Banu Astono, memandu
dialog itu.
Kerusakan habitat bermacam organisme juga memicu
menipisnya populasi satwa liar dilindungi. Gajah, misalnya, pada 2007 masih
berpopulasi sekitar 4.300 ekor. Tahun 2014, populasinya tinggal 1.700 ekor.
Selain itu, berdasar analisis kelangsungan hidup populasi 2015, populasi badak
sumatera juga kurang dari 100 ekor. Padahal, tahun 2007 diperkirakan ada 300
ekor.
Program pembangunan di daerah juga kerap mengancam
kelestarian keanekaragaman hayati. Rudi mencontohkan, saat ini direncanakan 14
ruas jalan akan dibangun pada kawasan ekosistem Leuser, Aceh, sehingga membuat
satwa langka dilindungi, seperti gajah, harimau, dan orangutan, rawan perburuan
mengingat para pemburu dan perambah hutan menjadi lebih mudah mengakses hutan.
Hal itu terjadi di Lampung dengan pembangunan jalan
tembus melalui Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Sebelumnya,
populasi badak sumatera di TNBBS diperkirakan 80 ekor. Namun, setelah
pemerintah membangun jalan tembus itu pada 2006, populasinya terus menurun.
Menurut perkiraan bulan lalu, populasi tinggal 17-20 ekor.
Satyawan menambahkan, selain karena menambah akses
bagi pemburu, jalan membelah hutan juga membuat habitat satwa terfragmentasi
menjadi lebih sempit. Hal itu juga pemicu kepunahan. Contohnya, dulu terdapat
lebih dari 20 lokasi populasi banteng jawa di Pulau Jawa. Namun, kini tinggal
empat lokasi akibat habitat semakin menyusut.
"Biodiversitas sering tidak dijadikan
pertimbangan penting pengambilan keputusan," ujar Satyawan. Mengonservasi
habitat berbagai spesies, menurut dia, bukan tentang memandang hidup gajah,
harimau, orangutan, atau organisme lain lebih penting daripada hidup manusia.
Namun, kelestarian organisme-organisme itu menunjukkan ekosistem sehat sehingga
tetap berfungsi normal untuk menopang keberlanjutan hidup masyarakat.
Satyawan juga membandingkan fungsi hutan terhadap
kebun kelapa sawit yang didapat dengan membuka hutan. Hutan alam setidaknya
memiliki tiga fungsi: pengatur, penyedia, dan ikatan budaya. Sebagai pengatur,
hutan berfungsi menahan erosi dan mengendalikan perubahan iklim. Sebagai
penyedia, hutan alam menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomis, seperti
kayu, madu, dan bahan obat-obatan. Hutan alam juga bagian dari budaya
masyarakat adat sekitar.
Sementara jika hutan berubah menjadi kebun kelapa
sawit yang monokultur, kebun hanya mempunyai satu fungsi, yaitu penyedia sumber
daya ekonomi, antara lain minyak sawit. Kebun itu tak berfungsi menahan erosi.
Di area gambut, kebun kelapa sawit memicu penurunan muka tanah.
Dengan demikian, akumulasi keuntungan dari hutan
yang dipertahankan sebenarnya lebih tinggi dibandingkan jika beralih fungsi,
tetapi hal itu sulit tersampaikan mengingat nilai nominalnya tak langsung
terlihat.
Eksploitasi ekosistem terbukti menimbulkan bencana.
Rudi menuturkan, Aceh Tamiang dilanda banjir dahsyat pada 2006 akibat aktivitas
penebangan kayu mengingat banyaknya izin hak pengusahaan hutan diberikan sejak
1970-an hingga 2001. Bank Dunia memperkirakan, kerugian akibat banjir sepekan
itu Rp 1,7 triliun. Jumlah itu setara empat kali Anggaran Pendapatan dan
Belanja Aceh Tamiang, yang saat itu Rp 400 miliar setahun.
Tahun lalu, kebakaran hutan dan lahan juga
menimbulkan kerugian. Bank Dunia menghitung nilai kerugian mencapai 16,1 miliar
dollar AS atau sekitar Rp 221 triliun.
Sumber
pendapatan
Selain menekan risiko bencana berbuntut kerugian
ekonomi, mempertahankan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya berpotensi
menambah penghasilan, salah satunya lewat ekowisata. Di Rwanda, turis yang
ingin melihat gorila di hutan harus mengantre 6-12 bulan karena jumlah turis
dibatasi 10-15 orang per hari. Biayanya 500 dollar AS (Rp 6,5 juta) per orang.
"Ini bisa diterapkan di Indonesia. Kita punya
Taman Nasional Komodo, satu dari tujuh keajaiban dunia," ujar Tachrir.
Kementerian Pariwisata juga mempunyai 10 destinasi pariwisata prioritas yang di
dalamnya ada tujuh kawasan ekowisata.
Nazir menambahkan, tanpa mengubah bentang alam
ekosistem, masyarakat tetap bisa mendapatkan manfaat ekonomi. Contohnya, warga
di Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, Riau, membudidayakan sagu di area gambut.
Gambut dijaga basah agar sagu tumbuh baik. "Pada 2015, meski ada El Nino,
lokasi mereka tak terbakar," tuturnya.
Di samping itu, kata Satyawan, keanekaragaman
mikroorganisme memiliki beragam potensi, seperti alternatif bahan obat, yang
bisa menopang pertumbuhan ekonomi bangsa. Banyak negara, termasuk Jepang,
berminat mengkaji zat aktif dari mikroorganisme Tanah Air. (Oci)
Komentar