Pendidikan Islam membutuhkan revitalisasi yang
memberikan sumbangsih bagi kebangsaan dan pendidikan secara luas di masa depan.
Bersamaan dengan itu, diperlukan pula kesiapan sumber daya Muslim dalam
persaingan antar-peradaban global.
Gagasan itu mengemuka dalam rapat pleno kelima
Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dipimpin Ketua Dewan
Pertimbangan (Wantim) MUI 2015-2020 Din Syamsuddin, Rabu (24/2), di Jakarta.
Wantim MUI merangkum ?Zproblematika yang mendera pendidikan Islam masa kini.
Problem besar adalah diskoneksi aspek zikir dan 'ilm (kognitif-material) serta?Z diskoneksi
antara aspek kognitif-material dan amal. Seperti dikutip dari kompas.com
Problematika lain, kurangnya kesadaran dan kesiapan
sumber daya Muslim dalam persaingan antar-peradaban global. Intensitas benturan
paradigma global dan kekaburan identitas juga jadi persoalan tersendiri. Patut
juga ditekankan, desain kurikulum meninggalkan khazanah budaya asli Nusantara
sehingga kehilangan sensibilitas pendidikan berkemajuan.
Gagal
bina karakter
Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (GUPPI)
melihat 11 persoalan yang patut dicarikan solusi. Paling utama adalah gagalnya
pendidikan Islam dalam membina karakter. Pendidikan masih berorientasi kognitif
dan belum mengarah pada soal akhlakul karimah (akhlak
terpuji).
"Contoh nyata adalah masih banyak kekerasan di
sejumlah tempat, mulai antardesa hingga antarsekolah. Gagalnya pembinaan
karakter juga terlihat dari banyaknya korupsi, pemerkosaan, pelecehan, dan
narkoba yang melibatkan orang Islam," kata Imam Tholkhah dari DPP GUPPI.
Mutu pendidikan pesantren juga belum
menggembirakan. Saat ini jumlah pesantren mencapai ?29.000?Z, merujuk data
Kemenag. ?ZDari jumlah itu, pesantren salafiah (tradisional) menurun dan kitab
kuning yang diajarkan makin berkurang. Di sisi lain, muncul pesantren baru
salafi yang menekankan pada hafalan Al Quran dan Hadis. ?ZIni jadi model baru,
tapi sering dinilai menyemai radikalisme meski bisa berpotensi cinta damai.
ZSudarnoto dari PP Muhammadiyah berpendapat,
?Zpendidikan Islam adalah kerangka strategis dalam mengembangkan karakter
kebangsaan. Ia sepakat dengan Imam bahwa ada problem dalam pembentukan
karakter.
Wakil Ketua Wantim MUI Nasaruddin Umar mengatakan,
sistem pendidikan pada abad ke-19 ternyata kewalahan melayani pendidikan abad
ke-20 dan ke-21. "Pasti ada yang salah kenapa pendidikan kita mengalami
kepribadian ganda. Bicara agama sepertinya sangat normatif. ?ZKita kehilangan
ilmu laduniyang sekarang disebut bidah. Kita menjadi
konsumen peradaban dan pemikiran orang luar ketimbang jadi produser. Padahal,
dunia Islam Indonesia seharusnya bisa jadi produser pemikiran keilmuan?Z,"
ujarnya.
Wantim MUI mengusulkan berbagai upaya guna
merevitalisasi pendidikan Islam. Pertama, penguatan epistemologi hudhury atau perspektif transendental. Aspek
spiritual-transenden idealnya jadi dasar penyelenggaraan pendidikan Islam.
Melalui epistemologi hudhury, akal dan jiwa akan melalui proses penyucian (tazkiyah).
Kedua, penguatan aspek komunikatif dalam proses
pendidikan Islam. Kepatuhan terhadap aturan tak berujung pada ketundukan pada
aturan, tetapi kesadaran ibadah. (Uha)
Komentar