Dorong Revitalisasi Pendidikan Islam -->

Iklan Semua Halaman

Dorong Revitalisasi Pendidikan Islam

Minggu, 28 Februari 2016
Pendidikan Islam membutuhkan revitalisasi yang memberikan sumbangsih bagi kebangsaan dan pendidikan secara luas di masa depan. Bersamaan dengan itu, diperlukan pula kesiapan sumber daya Muslim dalam persaingan antar-peradaban global.

Gagasan itu mengemuka dalam rapat pleno kelima Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dipimpin Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI 2015-2020 Din Syamsuddin, Rabu (24/2), di Jakarta. Wantim MUI merangkum ?Zproblematika yang mendera pendidikan Islam masa kini. Problem besar adalah diskoneksi aspek zikir dan 'ilm (kognitif-material) serta?Z diskoneksi antara aspek kognitif-material dan amal. Seperti dikutip dari kompas.com

Problematika lain, kurangnya kesadaran dan kesiapan sumber daya Muslim dalam persaingan antar-peradaban global. Intensitas benturan paradigma global dan kekaburan identitas juga jadi persoalan tersendiri. Patut juga ditekankan, desain kurikulum meninggalkan khazanah budaya asli Nusantara sehingga kehilangan sensibilitas pendidikan berkemajuan.

Gagal bina karakter

Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (GUPPI) melihat 11 persoalan yang patut dicarikan solusi. Paling utama adalah gagalnya pendidikan Islam dalam membina karakter. Pendidikan masih berorientasi kognitif dan belum mengarah pada soal akhlakul karimah (akhlak terpuji).

"Contoh nyata adalah masih banyak kekerasan di sejumlah tempat, mulai antardesa hingga antarsekolah. Gagalnya pembinaan karakter juga terlihat dari banyaknya korupsi, pemerkosaan, pelecehan, dan narkoba yang melibatkan orang Islam," kata Imam Tholkhah dari DPP GUPPI.

Mutu pendidikan pesantren juga belum menggembirakan. Saat ini jumlah pesantren mencapai ?29.000?Z, merujuk data Kemenag. ?ZDari jumlah itu, pesantren salafiah (tradisional) menurun dan kitab kuning yang diajarkan makin berkurang. Di sisi lain, muncul pesantren baru salafi yang menekankan pada hafalan Al Quran dan Hadis. ?ZIni jadi model baru, tapi sering dinilai menyemai radikalisme meski bisa berpotensi cinta damai.

ZSudarnoto dari PP Muhammadiyah berpendapat, ?Zpendidikan Islam adalah kerangka strategis dalam mengembangkan karakter kebangsaan. Ia sepakat dengan Imam bahwa ada problem dalam pembentukan karakter.

Wakil Ketua Wantim MUI Nasaruddin Umar mengatakan, sistem pendidikan pada abad ke-19 ternyata kewalahan melayani pendidikan abad ke-20 dan ke-21. "Pasti ada yang salah kenapa pendidikan kita mengalami kepribadian ganda. Bicara agama sepertinya sangat normatif. ?ZKita kehilangan ilmu laduniyang sekarang disebut bidah. Kita menjadi konsumen peradaban dan pemikiran orang luar ketimbang jadi produser. Padahal, dunia Islam Indonesia seharusnya bisa jadi produser pemikiran keilmuan?Z," ujarnya.

Wantim MUI mengusulkan berbagai upaya guna merevitalisasi pendidikan Islam. Pertama, penguatan epistemologi hudhury atau perspektif transendental. Aspek spiritual-transenden idealnya jadi dasar penyelenggaraan pendidikan Islam. Melalui epistemologi hudhury, akal dan jiwa akan melalui proses penyucian (tazkiyah).

Kedua, penguatan aspek komunikatif dalam proses pendidikan Islam. Kepatuhan terhadap aturan tak berujung pada ketundukan pada aturan, tetapi kesadaran ibadah. (Uha)