![]() |
| Dok. indonesiatimes.co.id |
Umat Islam di mana-mana dipandang belum mengalami kemajuan dan
sebaliknya masih tertinggal oleh umat lainnya. Dalam keadaan kalah seperti itu,
sebagaimana yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah, penderitaan itu masih
ditambah dengan persoalan yang tidak kurang peliknya, yaitu terjadi konflik
yang tidak mudah diselesaikan. Apa yang terjadi di Irak, Yaman, Libya, Suriah,
Mesir, dan lain-lain adalah contoh sebagai negara yang disebut mayoritas
penduduknya beragama Islam tetapi tidak henti-hentinya terlibat persoalan berat
sehingga tidak mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Negara-negara tersebut manakala tidak segera berhasil
menyelesaikan persoalannya itu, akan semakin jauh ketertinggalannya oleh negara
maju. Pemandangan itu sebenarnya akan berdampak luas, tidak terkecuali terhadap
Islam itu sendiri. Islam yang disebut-sebut sebagai agama yang mengajarkan
tentang kemajuan, kedamaian, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi,
berperadaban, dan seterusnya akan kehilangan bukti yang dapat dipercaya.
Apalagi adanya berbagai isu yang berkembang pada akhir-akhir ini, gerakan
terorisme misalnya, akan menambah bukti bahwa Islam adalah bukan agama yang
membawa kemajuan dan kedamaian, melainkan agama yang penuh dengan komplik dan
kemunduran.
Sebenarnya bisa saja sementara orang berdalih bahwa di balik
kejadian konflik dan kasus yang menyudutkan umat Islam itu terdapat kekuatan
yang justru menjadi skenarionya. Kejadian yang mengantarkan pada kehancuran
umat Islam itu ada yang membuatnya untuk meraih keuntungan dan atau setidaknya
mereka tidak menghendaki negara-negara dimaksud menjadi kuat dan maju.
Pandangan tersebut boleh-boleh saja muncul dan memang bisa jadi ada benarnya.
Akan tetapi, jika negara Islam tersebut mampu membangun persatuan atau
soliditas internal, sekuat apapun pengaruh dari luar akan bisa diatasi. Memang
tidak mudah membangun kekuatan internasil yang keadaan dan kepentingannya
beragam, tetapi apapun jika tidak mau negaranya dikoyak-koyak oleh orang lain
sebagai kekuatan eksternal, maka apapun harus dilakukan hingga berhasil.
Satu kelemahan mendasar bagi umat Islam di mana-mana adalah dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep pengembangan ilmu dan
betapa pentingnya hal itu harus dilakukan sebenarnya sudah sedemikian jelas.
Ayat al Qur’an yang pertama kali turun adalah tentang perintah membaca, dan
demikian pula satu asma Allah yang disebutkan pertama kali di dalam kitab suci
adalah “Yang Maha Pencipta”. Apabila awal turunnya perintah membaca dan
kemudian juga penyebutan asma Allah di awal itu menjadi petunjuk tentang betapa
pentingnya hal tersebut mendapat perhatian, maka betapa pentingnya membaca dan
mencipta di dalam membangun peradaban umat manusia dan seharusnya dilaksanakan
oleh umat Islam sendiri. Namun sayangnya, kedua hal tersebut tidak terlalu
memperoleh perhatian oleh umat Islam di mana-mana.
KIta banyak mengetahui bahwa sementara ini pendidikan Islam hanya
mengajarkan sebatas hal yang bersifat konseptual. Generasi muda lebih banyak
diajak mengkaji aspek-aspek yang tidak terlalu berkaitan dengan kemajuan dunia
modern seperti sekarang ini. Bukan berarti bahwa belajar al Qur’an dan hadits
Nabi tidak penting. Sumber ajaran Islam tersebut harus dipahami secara terus
menerus tanpa henti. Akan tetapi, waktu dan atau kesempatan yang ada jangan
habis hanya untuk memperdebatkan dan berbantah tentang al Qur’an dan Hadits
Nabi yang menjadikan umat Islam lemah dan mudah terkalahkan oleh kekuatan
lainnya yang memang dikehendaki yang demikian itu.
Al Qur’an dan hadits nabi diturunkan bukan untuk dijadikan bahan
perdebatan dan perbantahan, melainkan adalah justru sebaliknyta, yaitu agar
umat manusia tidak sibuk berbantah dan bercerai berai. Upaya untuk menjadikan
umat Islam mencintai ilmu pengetahuan yang bersumberkan dari al Qur’an harus
dimulai dari lembaga pendidikannya. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus
ditinjau kembali dan bahkan diubah secara mendasar dan cepat. Prinsip adanya
keharusan beriqra’ dan mencipta sebagai sesuatu modal kemajuan harus
dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Jika semula para pelajar dan mahasiswa Islam sekedar mengerti
Bahasa Arab harus menghabiskan waktu bertahun-tahun, maka hal itu harus diubah,
menjadi dipersingkat tetapi kualitasnya meningkat. Demikian pula, mempelajari
ilmu biologi, fisika, kimia, matematika, dan berbagai jenis ilmu sosial, harus
diciptakan cara yang lebih mudah dan dengan waktu secepat-cepatnya. Perubahan
cepat dan mendasar itu harus melahirkan ciri khas lembaga spendidikan Islam,
yaitu berkualitas dan selalu mampu menjawab tantangan zaman.
Agar perubahan mendasar dan cepat itu berhasil dilakukan, maka
harus ada keberanian dari para pemuka dan atau tokohnya. Harus ada kesadaran
bahwa konsep pendidikan yang selama ini dijalankan di mana-mana, ternyata
hasilnya dirasakan kurang memuaskan. Melalui konsep yang selama ini dijalankan,
umat Islam ternyata masih kalah bersaing dengan umat lainnya. Akibatnya, umat
Islam tertinggal dari umat lainnya. Oleh karena itu jika konsep lama dimaksud
tetap dipertahankan, maka selamanya umat Islam akan menjadi lemah, kalah, dan
tertinggal. Itulah sebabnya diperlukan adanya pembaharuan secara mendasar dan
bersifat revolutif sehingga dengan perubahan tersebut diharapkan menghasilkan
kualitas yang diharapkan. Wallahu A’lam.
Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
Dilansir dari: www.imamsuprayogo.com
Komentar