Diperlukan Keberanian Merevolusi Pendidikan Islam -->

Iklan Semua Halaman

Diperlukan Keberanian Merevolusi Pendidikan Islam

Kamis, 03 Maret 2016
Dok. indonesiatimes.co.id
Umat Islam di mana-mana dipandang belum mengalami kemajuan dan sebaliknya masih tertinggal oleh umat lainnya. Dalam keadaan kalah seperti itu, sebagaimana yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah, penderitaan itu masih ditambah dengan persoalan yang tidak kurang peliknya, yaitu terjadi konflik yang tidak mudah diselesaikan. Apa yang terjadi di Irak, Yaman, Libya, Suriah, Mesir, dan lain-lain adalah contoh sebagai negara yang disebut mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi tidak henti-hentinya terlibat persoalan berat sehingga tidak mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Negara-negara tersebut manakala tidak segera berhasil menyelesaikan persoalannya itu, akan semakin jauh ketertinggalannya oleh negara maju. Pemandangan itu sebenarnya akan berdampak luas, tidak terkecuali terhadap Islam itu sendiri. Islam yang disebut-sebut sebagai agama yang mengajarkan tentang kemajuan, kedamaian, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi, berperadaban, dan seterusnya akan kehilangan bukti yang dapat dipercaya. Apalagi adanya berbagai isu yang berkembang pada akhir-akhir ini, gerakan terorisme misalnya, akan menambah bukti bahwa Islam adalah bukan agama yang membawa kemajuan dan kedamaian, melainkan agama yang penuh dengan komplik dan kemunduran. 

Sebenarnya bisa saja sementara orang berdalih bahwa di balik kejadian konflik dan kasus yang menyudutkan umat Islam itu terdapat kekuatan yang justru menjadi skenarionya. Kejadian yang mengantarkan pada kehancuran umat Islam itu ada yang membuatnya untuk meraih keuntungan dan atau setidaknya mereka tidak menghendaki negara-negara dimaksud menjadi kuat dan maju. Pandangan tersebut boleh-boleh saja muncul dan memang bisa jadi ada benarnya. Akan tetapi, jika negara Islam tersebut mampu membangun persatuan atau soliditas internal, sekuat apapun pengaruh dari luar akan bisa diatasi. Memang tidak mudah membangun kekuatan internasil yang keadaan dan kepentingannya beragam, tetapi apapun jika tidak mau negaranya dikoyak-koyak oleh orang lain sebagai kekuatan eksternal, maka apapun harus dilakukan hingga berhasil. 

Satu kelemahan mendasar bagi umat Islam di mana-mana adalah dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep pengembangan ilmu dan betapa pentingnya hal itu harus dilakukan sebenarnya sudah sedemikian jelas. Ayat al Qur’an yang pertama kali turun adalah tentang perintah membaca, dan demikian pula satu asma Allah yang disebutkan pertama kali di dalam kitab suci adalah “Yang Maha Pencipta”. Apabila awal turunnya perintah membaca dan kemudian juga penyebutan asma Allah di awal itu menjadi petunjuk tentang betapa pentingnya hal tersebut mendapat perhatian, maka betapa pentingnya membaca dan mencipta di dalam membangun peradaban umat manusia dan seharusnya dilaksanakan oleh umat Islam sendiri. Namun sayangnya, kedua hal tersebut tidak terlalu memperoleh perhatian oleh umat Islam di mana-mana. 

KIta banyak mengetahui bahwa sementara ini pendidikan Islam hanya mengajarkan sebatas hal yang bersifat konseptual. Generasi muda lebih banyak diajak mengkaji aspek-aspek yang tidak terlalu berkaitan dengan kemajuan dunia modern seperti sekarang ini. Bukan berarti bahwa belajar al Qur’an dan hadits Nabi tidak penting. Sumber ajaran Islam tersebut harus dipahami secara terus menerus tanpa henti. Akan tetapi, waktu dan atau kesempatan yang ada jangan habis hanya untuk memperdebatkan dan berbantah tentang al Qur’an dan Hadits Nabi yang menjadikan umat Islam lemah dan mudah terkalahkan oleh kekuatan lainnya yang memang dikehendaki yang demikian itu. 

Al Qur’an dan hadits nabi diturunkan bukan untuk dijadikan bahan perdebatan dan perbantahan, melainkan adalah justru sebaliknyta, yaitu agar umat manusia tidak sibuk berbantah dan bercerai berai. Upaya untuk menjadikan umat Islam mencintai ilmu pengetahuan yang bersumberkan dari al Qur’an harus dimulai dari lembaga pendidikannya. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus ditinjau kembali dan bahkan diubah secara mendasar dan cepat. Prinsip adanya keharusan beriqra’ dan mencipta sebagai sesuatu modal kemajuan harus dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. 

Jika semula para pelajar dan mahasiswa Islam sekedar mengerti Bahasa Arab harus menghabiskan waktu bertahun-tahun, maka hal itu harus diubah, menjadi dipersingkat tetapi kualitasnya meningkat. Demikian pula, mempelajari ilmu biologi, fisika, kimia, matematika, dan berbagai jenis ilmu sosial, harus diciptakan cara yang lebih mudah dan dengan waktu secepat-cepatnya. Perubahan cepat dan mendasar itu harus melahirkan ciri khas lembaga spendidikan Islam, yaitu berkualitas dan selalu mampu menjawab tantangan zaman. 


Agar perubahan mendasar dan cepat itu berhasil dilakukan, maka harus ada keberanian dari para pemuka dan atau tokohnya. Harus ada kesadaran bahwa konsep pendidikan yang selama ini dijalankan di mana-mana, ternyata hasilnya dirasakan kurang memuaskan. Melalui konsep yang selama ini dijalankan, umat Islam ternyata masih kalah bersaing dengan umat lainnya. Akibatnya, umat Islam tertinggal dari umat lainnya. Oleh karena itu jika konsep lama dimaksud tetap dipertahankan, maka selamanya umat Islam akan menjadi lemah, kalah, dan tertinggal. Itulah sebabnya diperlukan adanya pembaharuan secara mendasar dan bersifat revolutif sehingga dengan perubahan tersebut diharapkan menghasilkan kualitas yang diharapkan. Wallahu A’lam.

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Dilansir dari: www.imamsuprayogo.com