![]() |
| Dok. Google |
Bumi bekerja tanpa henti. Sebagai organisme yang
hidup, ia membutuhkan saat-saat istirahat untuk memulihkan energi kehidupan.
Bahkan kemudian mengalirkan energi itu untuk ”menyalakan” kehidupan segenap
makhluk yang bermukim di dalamnya. Kapan Bumi istirahat?
Secara ritualistik, masyarakat penganut Hindu di
Indonesia menerjemahkannya dengan melangsungkan Nyepi, yang senantiasa jatuh
pada saat perayaan tahun baru Caka. Nyepi selalu dirayakan pada bulan mati
kesembilan dalam perhitungan kalender Caka atau sekitar bulan Maret dalam tahun
Masehi. Nyepi adalah saat-saat melakukan bratha (ibadah),
yang secara garis besar berkaitan dengan pengendalian diri. ”Sebenarnya ini
juga sepertimulat sarira, segala sesuatu
dimulai dari diri sendiri, yakni pengendalian,” ujar peneliti kebudayaan Bali
asal Perancis, Jean Couteau, Kamis (17/3), di Bandung, Jawa Barat. Seperti dilansir dari Kompas, 20 Maret 2016.
Pada 10 Maret 2016, Nyepi bertepatan dengan
terjadinya gerhana matahari total (GMT) yang bisa disaksikan di sebagian wilayah
Indonesia. GMT, kata Jean, bisa juga menandai betapa cahaya pun membutuhkan
istirahat. Minimalisasi cahaya juga dilaksanakan secara ritualistik dengan
mematikan lampu. ”Itu simbol dari pelaksanaan pengendalian api dalam diri,”
ujar Jean lagi.
Semuanya itu, ujar Jean, akan muncul menjadi energi
baru saat warga memasuki matahari pertama di tahun baru Caka. Pandangan dan
praktik ritual semacam itu ramah terhadap pandangan-pandangan baru yang lebih
mengena di hati orang-orang urban. ”Orang urban memaknai cara hidup baru itu
sebagai gaya hidup. Mereka menghayatinya seperti belajar yoga,” kata peneliti
yang bermukim puluhan tahun di Bali.
Praktik gaya hidup itu, misalnya, dilakukan pada
institusi bernama Eco Learning Camp atau Eco Camp, yang berlokasi di Bandung.
Eco Camp tidak hanya mengajarkan teori hemat energi, tetapi juga
mempraktikkannya lewat gaya hidup.
Untuk menghemat penggunaan energi, bangunan yang
didirikan mengikuti pedoman Green Building Council Indonesia (GBCI). Bangunan
dibuat terbuka dengan banyak kaca untuk meminimalkan penggunaan lampu pada
siang hari. Kegiatan malam hari diminimalkan sehingga tidak perlu menghidupkan
banyak lampu. Lampu-lampu yang digunakan berjenis LED arus searah (DC/direct current) yang penggunaan listriknya lebih hemat
ketimbang LED AC.
Hemat
listrik
Suplai listrik dipenuhi oleh panel surya yang
jumlahnya mencapai 40 unit dengan masing-masing daya 100 watt. Keberadaan panel
surya ini memenuhi kebutuhan untuk menyalakan lampu. Tambahan penggunaan,
seperti proyektor, dipenuhi oleh listrik PLN. Dengan demikian, penggunaan
listrik PLN minimal. Rata-rata sebulan hanya menghabiskan pengeluaran Rp
300.000. Jika seluruh kebutuhan dipenuhi PLN, pengeluaran mencapai Rp 2 juta
per bulan.
”Untuk lampu-lampu saja dengan kebutuhan total
4.000 watt cukup dari panel surya. Kebutuhan lain, seperti perangkat untuk
presentasi, menggunakan listrik dari PLN karena besar,” kata Pastor Ferry
Sutrisna Wijaya, Pembina Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang menaungi Eco
Camp.
Eco Camp didirikan dan dikelola pelaku dari lintas
agama dan berlokasi di kawasan Taman Hutan Rakyat Djuanda. Modal pengadaan
panel surya, baterai, dan perangkatnya mencapai Rp 200 juta. ”Kami tidak
menghitung perbandingan nilai ekonomisnya, tetapi menilai penggunaannya sebagai
contoh karena tempat kami adalah tempat pendidikan,” ujar Ferry.
Secara mandiri, penghematan juga dilakukan Heru
Nugroho. Di garasi rumahnya tidak ada kendaraan bermotor. Di ruang yang
terhubung dengan dapur itu justru terdapat 16 aki ukuran besar yang tersambung
dengan jalinan kabel rumit serta peralatan listrik lain.
”Aki-aki ini menyimpan tenaga listrik yang
dihasilkan dari matahari dan angin,” kata Heru, Guru Besar Sosiologi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Dalam rumah yang berlokasi di Perumahan Dayu
Permai, Sleman, DI Yogyakarta, itu, Heru memasang panel surya penyuplai listrik
dari tenaga matahari dan dua buah kincir angin penghasil listrik tenaga angin.
”Pada kondisi optimal, total daya listrik yang
dihasilkan pembangkit listrik tenaga surya dan angin itu bisa mencapai 5.000
watt per hari,” tutur Heru.
Listrik yang dihasilkan dari energi baru dan
terbarukan itu bisa menghidupi hampir semua peralatan elektronik di rumah Heru,
mulai lampu, AC, mesin cuci, kulkas, pemanas air, hingga pompa air. Ia memang
masih berlangganan listrik dari PLN sebagai daya cadangan jika sinar matahari
redup atau angin berembus kurang kencang. Namun, tagihan biaya listrik berdaya
2.200 watt di rumah itu kini turun drastis.
”Tanpa tenaga surya dan angin, tagihan listriknya bisa
mencapai Rp 1 juta per bulan. Namun, karena sekarang ada panel surya dan kincir
angin, tagihan listrik di rumah saya hanya Rp 200.000,” katanya.
Rana Yusuf Nasir, pendiri GBCI, menyebutkan, hingga
kini baru ada 32 gedung yang mendapatkan sertifikasi di berbagai daerah,
seperti Jakarta dan Solo dan masih ada 100 gedung yang mengajukan permohonan
serupa. Rana menyebut kalkulasi bahwa menaikkan temperatur pendingin udara 1
derajat saja bisa menghemat 6 persen dari konsumsi listrik.
Selain itu, dia juga menyebut masalah oversizing yang dilakukan pengembang gedung, yakni
memasang perangkat melampaui spesifikasi yang diminta sehingga menyebabkan
pemborosan.
Bumi
istirahat
Penghentian aktivitas selama 24 jam, sebagaimana
terjadi saat Nyepi, benar-benar bisa mengistirahatkan Bumi. Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Provinsi Bali dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
berupaya membuktikan itu. Selama tahun 2008 hingga 2014, BLH Bali meneliti lima
sektor yang berpotensi mencemari Bumi. Kelima sektor itu ialah rumah tangga,
industri, transportasi, sampah, dan pertanian. Hasilnya, rumah tangga
menghasilkan karbon dioksida (CO2) sekitar 3,5 juta ton per hari. Jumlah ini
berasal dari aktivitas dapur, seperti pemakaian kompor gas, minyak tanah, bahan
bakar kayu, serta penggunaan listrik.
Industri yang tercatat sebanyak 274 usaha di Bali
ini menyumbang CO2sebanyak 0,09 juta ton per hari. Sementara transportasi
menghasilkan 3,15 juta ton per hari. Rata-rata sampah Bali terhitung 11.045
meter kubik setiap hari. Ini mengeluarkan gas metana 18,20 giga per hari.
Sektor pertanian ternyata menghasilkan CO2 terbesar, yakni 13,35 juta ton per
hari.
”Nah, hasil penelitian ini dijumlahkan sehingga
memiliki angka 20,18 juta CO2yang setiap hari mencemari Bumi Bali. Nyepi
diperkirakan mampu mengurangi pembuangan CO2, bisa mengurangi sekitar 20,18
juta CO2tersebut,” kata Kepala BLH Bali Gede Suarjana.
Di luar soal itu, sejak tahun 2000, Pemerintah
Provinsi Bali menutup seluruh pintu masuk Bali, termasuk salah satu bandara
tersibuk di Indonesia, Ngurah Rai. Penutupan itu juga menjadi momentum penting,
yakni energi didaur ulang, sebelum kembali memasuki rutinitas dengan segala
kesibukan dan (pasti) harapan baru. (Uha)
Komentar