Mengistirahatkan Bumi, Mendaur Ulang Energi -->

Iklan Semua Halaman

Mengistirahatkan Bumi, Mendaur Ulang Energi

Selasa, 22 Maret 2016
Dok. Google
Bumi bekerja tanpa henti. Sebagai organisme yang hidup, ia membutuhkan saat-saat istirahat untuk memulihkan energi kehidupan. Bahkan kemudian mengalirkan energi itu untuk ”menyalakan” kehidupan segenap makhluk yang bermukim di dalamnya. Kapan Bumi istirahat?

Secara ritualistik, masyarakat penganut Hindu di Indonesia menerjemahkannya dengan melangsungkan Nyepi, yang senantiasa jatuh pada saat perayaan tahun baru Caka. Nyepi selalu dirayakan pada bulan mati kesembilan dalam perhitungan kalender Caka atau sekitar bulan Maret dalam tahun Masehi. Nyepi adalah saat-saat melakukan bratha (ibadah), yang secara garis besar berkaitan dengan pengendalian diri. ”Sebenarnya ini juga sepertimulat sarira, segala sesuatu dimulai dari diri sendiri, yakni pengendalian,” ujar peneliti kebudayaan Bali asal Perancis, Jean Couteau, Kamis (17/3), di Bandung, Jawa Barat. Seperti dilansir dari Kompas, 20 Maret 2016.

Pada 10 Maret 2016, Nyepi bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari total (GMT) yang bisa disaksikan di sebagian wilayah Indonesia. GMT, kata Jean, bisa juga menandai betapa cahaya pun membutuhkan istirahat. Minimalisasi cahaya juga dilaksanakan secara ritualistik dengan mematikan lampu. ”Itu simbol dari pelaksanaan pengendalian api dalam diri,” ujar Jean lagi.

Semuanya itu, ujar Jean, akan muncul menjadi energi baru saat warga memasuki matahari pertama di tahun baru Caka. Pandangan dan praktik ritual semacam itu ramah terhadap pandangan-pandangan baru yang lebih mengena di hati orang-orang urban. ”Orang urban memaknai cara hidup baru itu sebagai gaya hidup. Mereka menghayatinya seperti belajar yoga,” kata peneliti yang bermukim puluhan tahun di Bali.

Praktik gaya hidup itu, misalnya, dilakukan pada institusi bernama Eco Learning Camp atau Eco Camp, yang berlokasi di Bandung. Eco Camp tidak hanya mengajarkan teori hemat energi, tetapi juga mempraktikkannya lewat gaya hidup.

Untuk menghemat penggunaan energi, bangunan yang didirikan mengikuti pedoman Green Building Council Indonesia (GBCI). Bangunan dibuat terbuka dengan banyak kaca untuk meminimalkan penggunaan lampu pada siang hari. Kegiatan malam hari diminimalkan sehingga tidak perlu menghidupkan banyak lampu. Lampu-lampu yang digunakan berjenis LED arus searah (DC/direct current) yang penggunaan listriknya lebih hemat ketimbang LED AC.

Hemat listrik

Suplai listrik dipenuhi oleh panel surya yang jumlahnya mencapai 40 unit dengan masing-masing daya 100 watt. Keberadaan panel surya ini memenuhi kebutuhan untuk menyalakan lampu. Tambahan penggunaan, seperti proyektor, dipenuhi oleh listrik PLN. Dengan demikian, penggunaan listrik PLN minimal. Rata-rata sebulan hanya menghabiskan pengeluaran Rp 300.000. Jika seluruh kebutuhan dipenuhi PLN, pengeluaran mencapai Rp 2 juta per bulan.

”Untuk lampu-lampu saja dengan kebutuhan total 4.000 watt cukup dari panel surya. Kebutuhan lain, seperti perangkat untuk presentasi, menggunakan listrik dari PLN karena besar,” kata Pastor Ferry Sutrisna Wijaya, Pembina Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang menaungi Eco Camp.

Eco Camp didirikan dan dikelola pelaku dari lintas agama dan berlokasi di kawasan Taman Hutan Rakyat Djuanda. Modal pengadaan panel surya, baterai, dan perangkatnya mencapai Rp 200 juta. ”Kami tidak menghitung perbandingan nilai ekonomisnya, tetapi menilai penggunaannya sebagai contoh karena tempat kami adalah tempat pendidikan,” ujar Ferry.

Secara mandiri, penghematan juga dilakukan Heru Nugroho. Di garasi rumahnya tidak ada kendaraan bermotor. Di ruang yang terhubung dengan dapur itu justru terdapat 16 aki ukuran besar yang tersambung dengan jalinan kabel rumit serta peralatan listrik lain.

”Aki-aki ini menyimpan tenaga listrik yang dihasilkan dari matahari dan angin,” kata Heru, Guru Besar Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dalam rumah yang berlokasi di Perumahan Dayu Permai, Sleman, DI Yogyakarta, itu, Heru memasang panel surya penyuplai listrik dari tenaga matahari dan dua buah kincir angin penghasil listrik tenaga angin.

”Pada kondisi optimal, total daya listrik yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga surya dan angin itu bisa mencapai 5.000 watt per hari,” tutur Heru.

Listrik yang dihasilkan dari energi baru dan terbarukan itu bisa menghidupi hampir semua peralatan elektronik di rumah Heru, mulai lampu, AC, mesin cuci, kulkas, pemanas air, hingga pompa air. Ia memang masih berlangganan listrik dari PLN sebagai daya cadangan jika sinar matahari redup atau angin berembus kurang kencang. Namun, tagihan biaya listrik berdaya 2.200 watt di rumah itu kini turun drastis.

”Tanpa tenaga surya dan angin, tagihan listriknya bisa mencapai Rp 1 juta per bulan. Namun, karena sekarang ada panel surya dan kincir angin, tagihan listrik di rumah saya hanya Rp 200.000,” katanya.

Rana Yusuf Nasir, pendiri GBCI, menyebutkan, hingga kini baru ada 32 gedung yang mendapatkan sertifikasi di berbagai daerah, seperti Jakarta dan Solo dan masih ada 100 gedung yang mengajukan permohonan serupa. Rana menyebut kalkulasi bahwa menaikkan temperatur pendingin udara 1 derajat saja bisa menghemat 6 persen dari konsumsi listrik.

Selain itu, dia juga menyebut masalah oversizing yang dilakukan pengembang gedung, yakni memasang perangkat melampaui spesifikasi yang diminta sehingga menyebabkan pemborosan.

Bumi istirahat

Penghentian aktivitas selama 24 jam, sebagaimana terjadi saat Nyepi, benar-benar bisa mengistirahatkan Bumi. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika berupaya membuktikan itu. Selama tahun 2008 hingga 2014, BLH Bali meneliti lima sektor yang berpotensi mencemari Bumi. Kelima sektor itu ialah rumah tangga, industri, transportasi, sampah, dan pertanian. Hasilnya, rumah tangga menghasilkan karbon dioksida (CO2) sekitar 3,5 juta ton per hari. Jumlah ini berasal dari aktivitas dapur, seperti pemakaian kompor gas, minyak tanah, bahan bakar kayu, serta penggunaan listrik.

Industri yang tercatat sebanyak 274 usaha di Bali ini menyumbang CO2sebanyak 0,09 juta ton per hari. Sementara transportasi menghasilkan 3,15 juta ton per hari. Rata-rata sampah Bali terhitung 11.045 meter kubik setiap hari. Ini mengeluarkan gas metana 18,20 giga per hari. Sektor pertanian ternyata menghasilkan CO2 terbesar, yakni 13,35 juta ton per hari.

”Nah, hasil penelitian ini dijumlahkan sehingga memiliki angka 20,18 juta CO2yang setiap hari mencemari Bumi Bali. Nyepi diperkirakan mampu mengurangi pembuangan CO2, bisa mengurangi sekitar 20,18 juta CO2tersebut,” kata Kepala BLH Bali Gede Suarjana.

Di luar soal itu, sejak tahun 2000, Pemerintah Provinsi Bali menutup seluruh pintu masuk Bali, termasuk salah satu bandara tersibuk di Indonesia, Ngurah Rai. Penutupan itu juga menjadi momentum penting, yakni energi didaur ulang, sebelum kembali memasuki rutinitas dengan segala kesibukan dan (pasti) harapan baru. (Uha)