Kebijakan pengendalian penyakit harus berbasis
riset, pada vektor ataupun kasus penyakitnya. Itu diharapkan bisa secara tepat
mengatasi merebaknya penyakit, termasuk yang ditularkan nyamuk. Riset akan
memberi informasi identifikasi dan sebaran penyakit secara akurat.
Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian Kesehatan Siswanto, Rabu (24/2), di Jakarta, melalui
Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora), Balitbangkes
memberi gambaran identifikasi dan sebaran vektor sekaligus penyakit yang
merebak di Indonesia. "Saat ada kasus, Litbangkes mengonfirmasi penyebab
penyakit itu," ujarnya.
Rikhus Vektora yang akan berjalan hingga tahun 2017
itu jadi bukti dukungan pada kebijakan berbasis bukti ilmiah. Riset tahap
pertama yang dilakukan tahun 2015 di empat provinsi itu fokus pada nyamuk,
tikus, dan kelelawar. Empat provinsi itu adalah Sumatera Selatan, Jawa Tengah,
Sulawesi Tengah, dan Papua.
Pada nyamuk, hasil sementara riset menunjukkan 1-5
persen dari total spesimen positif memiliki mikroba penyebab penyakit.
Selain memeriksa adanya mikroorganisme penyebab
penyakit di tubuh vektor, peneliti juga memelajari bionomik vektor. Lalu, bisa
ditentukan tingkat kerawanan per provinsi, yakni tingkat ada nyamuk tetapi tak
ada virus; ada nyamuk dan virus tetapi tak ada penyakit, serta ada ketiganya.
Di Sumsel, peneliti mengumpulkan 34.157 nyamuk,
terdiri dari 24 genus dan 122 spesies. Di Jateng, terkumpul 29.130 nyamuk (26
genus dan 83 spesies), di Sulteng 24.195 nyamuk (11 genus dan 145 spesies),
serta di Papua 31.829 nyamuk (26 genus dan 83 spesies).
Siswanto menjelaskan, dari pemetaan tahap 2015,
nyamuk di Sumsel positif malaria, dengue, chikungunya, dan Japanese Encephalitis (JE),
di Jateng positif dengue saja, di Sulteng positif JE, serta di Papua positif
malaria dan chikungunya.
Riset itu akan bermanfaat bagi penanggulangan
penyakit. "Riset harus bermuara pada perbaikan solusi pembangunan
kesehatan," kata Siswanto.
Metode
baru
Berbagai inovasi pengendalian penyakit bersumber
dari nyamuk juga dikembangkan. Contohnya, Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada dan Yayasan Tahija menerapkan program Eliminate Dengue Project
(EDP) di Daerah Istimewa Yogyakarta. EDP adalah kegiatan riset di sejumlah
negara demi mencari metode baru penanggulangan demam berdarah dengue (DBD).
Fokus utama EDP adalah mencegah penularan virus
dengue dengan bakteri Wolbachia. Jadi, Wolbachia adalah bakteri alami yang
biasa ada pada serangga dan terbukti bisa menghambat pertumbuhan virus dengue
dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD. Tim EDP Yogyakarta
melepaskan sejumlah nyamuk yang mengandung Wolbachia di sejumlah tempat di
Sleman dan Bantul, DI Yogyakarta.
Menurut Adi Utarini, Ketua Tim EDP Yogyakarta,
pelepasan nyamuk di Sleman dan Bantul masih skala terbatas. Itu untuk
mengetahui apakah nyamuk Aedes aegypti yang
mengandung Wolbachia bertahan hidup di populasi nyamuk biasa dan bisa menekan
kasus DBD.
Associate Director for Science pada Divisi Penyakit
Tular Vektor Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat Ronald
Rosenberg, kemarin, di Jakarta, mengatakan, surveilans diperlukan untuk
mencegah wabah. Namun, diakui, di sejumlah negara, termasuk AS, surveilans
tidak berjalan sempurna. Meski demikian, pemerintah tiap negara seharusnya
memperhatikan kemungkinan penyakit lain di luar yang dikenal saat memeriksa
sampel dari pasien.
"Setelah hasil pemeriksaan DBD atau malaria
negatif, misalnya, harus dilanjutkan diagnosis penyakit lain," ujarnya.
Di dunia ada 86 virus RNA ditularkan vektor
serangga (arbovirus), 15 di antaranya banyak dikenal dan 70 di antaranya belum
banyak diketahui karakteristiknya. Itu belum termasuk 200 virus yang belum
diketahui pasti bersifat patogen atau tidak dan 200 virus diduga arbovirus.
Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman
Prof Herawati Sudoyo menambahkan, surveilans masih fokus penyakit yang dikenal,
seperti DBD dan malaria. "Deteksi kita lemah," ujarnya. (Uha)
Komentar