![]() |
| Dok. Kompas |
Foto-foto
pembangunan infrastruktur kerap muncul di media massa. Dampaknya masyarakat
makin optimistis dengan masa depan. Secara perlahan, namun pasti wujud
proyek-proyek itu makin terlihat. Siapakah yang akan menangguk untung ketika
proyek-proyek itu selesai?
Sejak
awal, pemerintah mengingatkan, ada jalan berat yang harus dilalui untuk
mewujudkan semua infrastruktur. Kesabaran juga dibutuhkan karena semua proyek
membutuhkan waktu yang tidak pendek. Setidaknya pada 2018 proyek tersebut baru
mulai selesai. Namun, beberapa proyek sudah mulai berbentuk sehingga kita bisa
membayangkan wujudnya kelak. Marilah sekarang kita membayangkan ketika proyek
itu pada 2018-2019 sudah selesai.
Kita
bisa naik kereta api dari Surabaya menuju Banda Aceh dengan ganti moda, yaitu
kapal feri di Selat Sunda, karena berdasarkan rencana pada 2019 jalur kereta
api Trans-Sumatera sudah bisa menghubungkan Lampung hingga Aceh. Masyarakat
Sulawesi sudah menikmati jaringan kereta api Makassar-Parepare karena pada 2018
proyek sepanjang 144 kilometer ini rampung. Proyek MRT Jakarta juga selesai
pada 2018. Seperti dilansir dari Kompas, 2 April 2016.
Pilihan
angkutan juga makin bervariasi untuk melancong ke sejumlah tempat karena
infrastruktur jalan tol sudah selesai. Tol Trans-Jawa sudah selesai pada 2018.
Jalan tol Trans-Sumatera dan Trans-Kalimantan diharapkan sudah selesai. Kereta
cepat Jakarta-Bandung untuk pertama kali beroperasi di Indonesia pada 2019.
Penerbangan
ke daerah terpencil seperti Natuna dan Sangir-Talaud sangatlah sudah mudah
karena pemerintah memperbaiki puluhan bandar udara kecil sehingga setidaknya
bisa didarati pesawat Boeing tipe 737.
Penggunaan
gas sudah merata dari bagian barat hingga bagian timur karena PT Pertamina
telah menyelesaikan pembangunan infrastruktur gas di Indonesia timur. Pasokan
listrik meningkat sangat tajam karena proyek 35.000 megawatt selesai.
Arus
barang melalui laut makin tertata karena sejumlah pelabuhan dibenahi dan
perdagangan makin efisien.
Perkembangan
lain adalah akses internet makin membaik karena pembangunan fasilitas internet
berkecepatan tinggi atau pita lebar. Infrastruktur ini menyebabkan lalu lintas
data makin merata dan makin cepat. Perbankan juga makin efisien karena satelit
milik BRI diluncurkan tahun ini dan kemudian bisa digunakan untuk meningkatkan
inklusi keuangan di wilayah kepulauan.
Semua
itu bisa terwujud dengan asumsi pembiayaan tidak bermasalah, anggaran bisa
mendukung, dan kapasitas aparat memadai. Kondisi politik tidak gaduh alias
mendukung percepatan pembangunan infrastruktur.
Apakah
yang akan terjadi apabila semuanya terselesaikan? Pelajaran dari penyelesaian
rel ganda di Jawa, sejumlah kota kecil mulai tumbuh, aktivitas ekonomi
meningkat, dan juga lahir kelas menengah berupa pelaku ekonomi, politik, dan
sosial budaya di daerah yang menopang kebutuhan sumber daya manusia setempat.
Kita bisa melihat perkembangan tersebut di Pekalongan, Bojonegoro, dan Cirebon.
Secara
politis, rezim Presiden Joko Widodo akan menangguk untung dari penyelesaian
pembangunan infrastruktur itu menjelang Pemilihan Umum Presiden 2019. Semacam
kredit positif untuk pemerintahannya. Namun, keuntungan terbesar dari
pembangunan ini sesungguhnya akan dinikmati semua kalangan.
Masyarakat
akan menikmati akses transportasi yang lebih mudah. Mereka juga akan menikmati
akses informasi yang cepat dan lebih murah. Interaksi antarwarga juga makin
mudah. Keuntungan terbesar dari semua itu adalah akan lahir generasi yang lebih
produktif, demokratis, dan lebih memahami keindonesian yang berkeadilan. (Uha)
Komentar