Tingkatkan Kualitas Tenaga Kerja -->

Iklan Semua Halaman

Tingkatkan Kualitas Tenaga Kerja

Senin, 08 Februari 2016
Kucuran dana dari pemerintah dibutuhkan agar perguruan tinggi dapat fokus melaksanakan riset dan pendidikan. Jika terbebani tugas mencari uang, universitas akan sulit menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi, terlebih dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN.


Hal itu terungkap dalam orasi ilmiah yang disampaikan Guru Besar Hukum Internasional Hikmahanto Juwana yang bertajuk "Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Tantangannya bagi Indonesia: Dalam Perspektif Hukum Perdagangan Internasional", Sabtu (6/2), di Balairung Universitas Indonesia, Depok. Orasi digelar dalam rangka wisuda dan Upacara Dies Natalis UI.

"Agar mampu bersaing dengan negara lain, pemerintah harus mengalokasikan dana yang memadai untuk menempa sumber daya manusia di perguruan tinggi. Tidak boleh hanya terbatas di kota-kota besar, tetapi juga di daerah terpencil," kata Hikmahanto.

Ia menyatakan, jika pemerintah tak segera membenahi sistem pengelolaan perguruan tinggi di Indonesia, kualitas angkatan kerja di Indonesia akan kalah bersaing dengan pencari kerja dari negara-negara ASEAN lainnya.

Angkatan kerja yang berusia 15-64 tahun di Indonesia berjumlah 114 juta jiwa. Sebanyak 23 persen atau sekitar 26 juta orang merupakan lulusan sekolah tinggi. Namun, Hikmahanto menilai, kualitas angkatan kerja Indonesia belum dipersiapkan untuk menghadapi persaingan internasional.

Apabila tidak segera dibenahi, dikhawatirkan akan banyak warga Indonesia yang tidak mampu melawan arus ekonomi global, baik sebagai pelaku usaha maupun sebagai tenaga kerja. Padahal, tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ialah pemerintah suatu negara tidak boleh memiliki keberpihakan terhadap pelaku usaha dari negara tersebut.

"Dalam prinsip MEA, pemerintah suatu negara harus memperlakukan pelaku usaha dari negara lain secara sama. Karena itu, kualitaslah yang akan menentukan daya tahan angkatan kerja Indonesia," ujar Hikmahanto.
Rektor UI Muhammad Anis mengatakan, sektor pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan di tingkat global, khususnya sejak pemberlakuan MEA. Karena itu, PTN harus memiliki daya tahan untuk menghadapi era persaingan ketat dalam kajian riset dan teknologi.

Sejumlah terobosan telah dilakukan UI. Salah satunya mendorong akademisi di bidang kesehatan untuk menyampaikan teknologi yang dihasilkannya kepada masyarakat melalui komersialisasi yang melibatkan pihak industri.

"Tujuannya agar Indonesia dapat menjadi tuan rumah bagi pengembangan teknologi kesehatan di negeri sendiri. Kami berkomitmen untuk mengambil peran strategis dalam meningkatkan daya saing lulusan," kata Anis.


Dilansir dari: www.kompas.com