Moratorium Dijalankan -->

Iklan Semua Halaman

Moratorium Dijalankan

Minggu, 03 April 2016
Foto: Kompas
Presiden Joko Widodo belum memberikan arahan apa pun terkait keinginan DPR membangun gedung baru. Pemerintah masih konsekuen dengan kebijakan menghentikan rencana pembangunan semua gedung baru yang diambil pada Desember 2014.

Saat ini, pemerintah sedang memprioritaskan alokasi anggaran untuk membangun infrastruktur, fasilitas pendidikan, dan keperluan yang dianggap mendesak untuk kepentingan negara. Hal tersebut menjadi prioritas demi meningkatkan daya saing daerah, terutama di luar Pulau Jawa.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (29/3), mengatakan, Presiden Joko Widodo juga tidak memberikan arahan apa pun terkait rencana pembangunan gedung baru DPR. Menurut Pramono, Presiden terlibat langsung memilah dan memutuskan gedung yang diizinkan dibangun atau tidak. Seperti dilansir dari Kompas, 30 Maret 2016.

"Termasuk di dalamnya melalui peninjauan ke lapangan. Dalam konteks itu, Presiden selalu menyampaikan izin melalui Seskab sehingga kami akan mengeluarkannya kalau sudah ada arahan dari Presiden," kata Pramono.

Penolakan internal

Sementara dari internal DPR, suara penolakan pembangunan gedung baru justru menguat. Citra DPR dikhawatirkan semakin terpuruk di mata rakyat jika rencana pembangunan gedung baru terus dipaksakan.

Sejauh ini, 7 fraksi dari 10 fraksi di DPR meminta pimpinan menunda rencana pembangunan gedung baru tersebut. Menurut rencana, gedung baru itu terdiri atas perpustakaan umum terbesar se-Asia Tenggara serta ruang kerja bagi anggota DPR dan tenaga ahli. Ketujuh fraksi itu adalah Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai Hanura, Fraksi Partai Nasdem, Fraksi Partai Gerindra, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, dan Fraksi Partai Demokrat. Pertimbangan utamanya adalah kondisi anggaran.

Wakil Ketua Fraksi PDI-P Hendrawan Supratikno mengatakan, DPR dan pemerintah sudah selayaknya mempertajam prioritas pengeluaran di tengah kondisi anggaran yang sedang sulit. Pembangunan perpustakaan, ujarnya, masih dapat ditunda, sehingga sebaiknya prioritas tersebut digeser.

"Saya bisa mengerti melihat pimpinan DPR yang kesannya berkukuh karena anggaran itu memang sudah disahkan dalam rapat paripurna demi mencapai parlemen modern. Tidak hanya lewat gedung baru, tetapi juga membangun peradaban lewat perpustakaan. Secara tujuan sudah baik, tetapi melihat kondisi perekonomian sekarang, sebaiknya ditunda dulu," kata Hendrawan.

Sekretaris Fraksi Hanura Dadang Rusdiana mengatakan, DPR sebaiknya memperbaiki produktivitas dalam kinerja legislasi dan disiplin kehadiran lebih dahulu. Jika sudah ada pembuktian terkait kinerja, ia meyakini, publik tidak akan banyak memprotes rencana-rencana DPR.

Secara terpisah, Ketua DPR dari Fraksi Partai Golkar Ade Komarudin menyayangkan penolakan publik. Ade menegaskan, pembangunan gedung baru DPR akan tetap berjalan. Ade tidak mempersoalkan dampak kegigihannya memperjuangkan proyek itu terhadap citra.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Yenny Sucipto mengatakan, jika DPR bercita-cita mendirikan perpustakaan nasional yang memadai, seharusnya anggaran diarahkan untuk membenahi Perpustakaan Nasional yang sudah ada. (Mil)